Jakarta, CNN Indonesia --
Kepala keamanan Iran, Mohsen Rezaei, telah menyampaikan sederet syarat baru dari Teheran untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat (AS).
Dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera pada Sabtu (19/9), Rezaei mengatakan Iran telah menyampaikan persyaratan tersebut kepada AS melalui Qatar selaku mediator.
Meski begitu, ia juga menambahkan bahwa Iran siap bertempur dengan Amerika Serikat dengan "kekuatan yang lebih besar".
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita akan menghadapi Amerika dengan kekuatan yang lebih besar, dan dengan serangan yang lebih banyak dan lebih menyakitkan," katanya.
Apa saja syarat baru Iran?
Berdasarkan pernyataan Rezaei kepada Al Jazeera, syarat berakhirnya perang yang diajukan Iran antara lain:
- Mengakhiri perang di semua lini, termasuk khususnya Lebanon
- Pencairan dana Iran yang berjumlah miliaran dolar AS
- Pengakhiran blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran
- Mengakhiri campur tangan AS dalam urusan internal Iran
- Mengakhiri kerja sama AS dengan "para penentang revolusi kami"
- Mengakhiri semua serangan AS terhadap wilayah Iran
Rezaei berujar merupakan kepentingan Washington untuk menerima syarat-syarat ini. Ia melanjutkan Iran siap bertempur kembali dan tak takut pada ancaman-ancaman Presiden AS Donald Trump.
"Menerima syarat-syarat ini adalah demi kepentingan Washington," ujarnya.
Apa perbedaannya dengan MoU bulan Juni?
Syarat-syarat baru Iran ini memiliki kemiripan dengan tuntutannya dalam nota kesepahaman (MoU) yang diteken pada Juni lalu.
MoU tersebut juga mencakup pengakhiran perang di semua front, termasuk di Lebanon; penghormatan terhadap kedaulatan masing-masing dan tak ikut campur dalam urusan internal; pengakhiran blokade laut; serta pencairan dana Iran yang dibekukan.
Kesepakatan pada Juni turut menyerukan rencana rekonstruksi senilai 300 miliar dolar AS serta janji bahwa Iran tidak akan membeli atau mengembangkan senjata nuklir, dan bahwa Teheran akan membuka Selat Hormuz untuk jalur pelayaran yang aman.
Kesepakatan ini juga mengharuskan AS mengeluarkan pengecualian bagi ekspor minyak mentah Iran dan layanan lainnya, tidak memberlakukan sanksi baru terhadap Iran, serta tidak mengerahkan pasukan AS tambahan di kawasan tersebut.
Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Rezaei tidak menyebutkan ganti rugi perang dari AS seperti yang sebelumnya dituntut Teheran.
Menurut Adel Abdel Ghafar, seorang peneliti senior yang fokus pada Timur Tengah di Australian Strategic Policy Institute, Iran memiliki motif lain karena mengungkap syarat ini di waktu sekarang dan melalui mediator.
"Dengan gagalnya MoU Islamabad dan... Rezaei menyampaikan persyaratan melalui Qatar, Iran mengembalikan tanggung jawab kepada Washington dan melakukannya secara terbuka, untuk mendapatkan efek maksimal," kata Abdel Ghafar.
Abdel Ghafar meyakini bahwa kedua belah pihak saat ini berada dalam kebuntuan.
AS mampu mempertahankan blokade laut dan memegang superioritas udara, namun tidak mampu membuat Iran menyerah. Sementara itu, Iran tidak bisa menembus blokade AS tapi "memiliki pengaruh asimetris yang cukup untuk mempersulit semua pihak."
"Pada dasarnya Iran bertaruh pada ketidakpopuleran perang dan bahwa pemilihan paruh waktu AS akan mengubah keadaan menguntungkan mereka, jadi mereka mengumumkan tuntutan mereka secara terbuka dan menyerahkan keputusan kepada Trump," ujarnya.
Sejauh ini AS belum menanggapi syarat baru Iran.
(blq/dna)


















































