Jakarta, CNN Indonesia --
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tengah bergejolak naik-turun tajam saat ini mendorong investor pasar modal lebih selektif dalam memilih saham-saham untuk dikoleksi sebagai instrumen investasi.
Di tengah volatilitas pasar, perencana keuangan menilai investor perlu fokus pada kualitas fundamental, tujuan investasi, serta strategi jangka panjang agar tetap bisa memanfaatkan peluang rebound.
Berikut tips memilih saham di tengah tekanan IHSG dari ahlinya:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Pilih saham dengan fundamental kuat dan likuid
Perencana Keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andi Nugroho mengatakan ada sejumlah kriteria yang bisa dijadikan pegangan untuk memilih saham berkualitas saat pasar sedang tertekan.
Saham dengan kinerja keuangan solid dinilai memiliki peluang bangkit saat pasar pulih. Likuiditas juga penting agar saham mudah diperdagangkan.
"Pilihlah saham yang memiliki fundamental bagus dan likuid. Sehingga meskipun saat ini mungkin harganya sedang anjlok, namun tetap berpotensi untuk rebound kembali," kata Andi.
2. Cari Saham yang sudah undervalued
Harga saham yang sudah turun signifikan dapat menjadi peluang masuk dengan valuasi lebih murah.
"Cari saham yang sudah undervalued atau harganya sudah turun banyak, sehingga ketika rebound bisa untung lebih besar lagi," ujar Andi.
3. Fokus ke sektor defensif
Sektor yang produknya tetap dibutuhkan masyarakat dinilai lebih tahan terhadap tekanan ekonomi.
"Pilih saham-saham dari sektor defensif seperti konsumsi rumah tangga, kesehatan, farmasi, serta sektor telekomunikasi," jelas Andi.
4. Gunakan strategi Dollar Cost Averaging (DCA)
Strategi beli bertahap atau DCA dinilai efektif saat pasar masih mencari titik terendah.
"Lakukan strategi dollar cost averaging atau membeli sedikit demi sedikit secara bertahap agar mendapatkan harga rata-rata terbaik," katanya.
5. Cermati emiten yang melakukan buyback saham
Aksi buyback dinilai bisa menjadi sinyal kepercayaan manajemen terhadap kinerja perusahaan.
"Sejak awal 2026, sudah ada beberapa emiten yang melakukan aksi buyback saham mereka. Ini bisa menahan agar harga saham tidak semakin turun," ujar Andi.
6. Tentukan tujuan investasi
Perencana Keuangan Advisors Alliance Group Indonesia Dandy menekankan pentingnya kembali ke tujuan investasi sebelum membeli saham. Menurutnya, kondisi pasar yang fluktuatif justru lebih cocok bagi investor berjangka panjang.
"Kalau kondisi pasar seperti sekarang, yang paling penting itu balik lagi ke tujuan investasi. Investasinya buat apa, dananya berapa, dan sampai kapan," kata Dandy.
Ia mengingatkan saham bukan instrumen jangka pendek yang cocok bagi semua orang.
"Saham itu memang fluktuatif, naik-turun, jadi kurang cocok untuk jangka pendek, kecuali niatnya trading," ujarnya.
7. Jangan FOMO
Dandy juga mengingatkan investor agar tidak membeli saham hanya karena sentimen sesaat. Jangan masuk ke saham cuma karena FOMO atau karena melihat berita positif tentang emiten tersebut, lalu langsung beli sahamnya. Membaca berita memang penting, tapi tetap harus dianalisa fundamental sahamnya.
Untuk pemula, ia menyarankan memilih saham yang sudah masuk indeks utama. Tujuannya agar lebih aman.
"Bisa mulai dari saham-saham yang ada di indeks seperti LQ45, IDX30, IDX80, atau Kompas100," ujar Dandy.
Menurutnya, kunci utama investasi saham tetap pada keberlanjutan bisnis perusahaan. Investor perlu melihat, apakah bisnis perusahaannya masih sustain untuk jangka panjang.
Ia menambahkan strategi beli rutin secara bertahap dan diversifikasi juga perlu dijalankan.
"Selain itu, saya juga sarankan pakai strategi Dollar Cost Averaging, dan terakhir, jangan all-in di satu saham," tutup Dandy.
(lidya julita sembiring/pta)
















































