Jakarta, CNN Indonesia --
Pakar mengkhawatirkan risiko kesehatan imbas pesta kembang api besaran-besaran yang diinisiasi oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk memperingati hari ulang tahun Amerika Serikat ke-250 tahun pada Sabtu (4/7).
Pesta kembang api yang dinamai Proyek 'Freedom250' ini bakal meluncurkan lebih dari 850 ribu selongsong kembang api, dan akan ditembakkan di 10 titik di sekitar Lincoln Memorial dan Sungai Potomac. Pesta tersebut akan dimulai pukul 22.30 malam waktu setempat, dengan durasi selama 40 menit.
Melansir AFP, jumlah ini sekitar 40 ribu lebih banyak dari World Guinness Record book yang saat ini dipegang oleh Bocaue, Filipina pada tahun 2016, dan 50 kali lipat lebih besar dari pertunjukan tahunan yang biasa digelar di Washington.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Russell Dickerson, profesor kimia atmosfer di Universitas Maryland, menilai kembang api yang akan diledakan kali ini sangat mengerikan.
"Menurut saya kurang bijak meledakkan 850 ribu kembang api, di hari yang panas, pengap, dan sudah penuh polusi," kata Dickerson.
Masalah utamanya adalah polusi partikel halus atau PM2,5. Partikel ini dapat masuk sangat dalam ke paru-paru, menembus aliran darah, hingga mencapai otak.
Standar aman dari Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA) membatasi paparan maksimal sebesar 35 mikrogram per meter kubik dalam 24 jam. Asapnya juga bakal memperpendek jarak pandang.
"Setelah pertunjukan kembang api selesai, polusinya memang hilang dalam beberapa jam, tapi dalam hitungan jam itu, orang-orang akan menghirup polusi dalam jumlah yang sangat besar," jelas dia.
Terasa seperti kiamat
Kondisi ini diperparah gelombang panas yang sedang melanda Pantai Timur AS. Asap kembang api dan polusi kemungkinan akan bertahan lebih lama, karena tidak ada hujan yang bisa membersihkan udara.
Terlebih, menurutnya cuaca panas juga meningkatkan polusi dasar akibat lonjakan penggunakan listrik untuk AC dan meningkatnya emisi dari kendaraan.
"Jumlah polusi yang kita hasilkan dalam satu hari khusus ini benar-benar terasa seperti kiamat," kata Glory Dolphin Hammes, CEO IQAir wilayah Amerika Utara.
Data yang dikumpulkan IQAir dari berbagai sumber, menunjukkan bahwa kadar PM2,5 di Washington tahun lalu melonjak hingga 133 mikrogram per meter kubik pada jam 11 malam di tanggal 4 Juli. Indeks kualitas udara (AQI) bahkan menembus angka 208.
Secara medis, lonjakan PM2,5 sangat berkaitan dengan meningkatnya kunjungan pasien ke IGD. Belum lagi, dampak jangka panjang pada kesehatan jantung dan paru-paru akibat paparan kronis.
Selain partikel halus, kembang api juga mengandung logam berat untuk menghasilkan warna-warni cerah, dan pembakarannya melepaskan senyawa organik yang berbahaya.
Dampak kembang api ini juga dirasakan oleh satwa liar. Sebuah studi di Eropa baru-baru ini menemukan bahwa angsa migran Akrtik terbang menjadi dari tempat mereka akibat kembang api malam tahun baru dan tidak pernah kembali lagi.
Selain itu, studi pemerintah AS pada tahun 2016 menemukan zat perklorat, bahan pengoksidasi yang digunakan dalam kembang api, mencemari air tanah dan air permukaan di sekitar Monumen Nasional Mount Rushmore, yang rutin menggelar pertunjukan kembang api setiap tanggal 4 Juli.
Suara kemerdekaan
Kendati begitu, asisten profesor epidemiologi di Sekolah Kesehatan Masyarakat Universitas Brown Erica Walker menilai bahwa dampak buruk kembang api harus ditimbang juga dengan kebahagiaan yang dihasilkannya. Menurutnya, ada perbedaan antara polusi suara yang terjadi terus menerus dengan polusi yang hanya terjadi dalam setahun.
"Sebagai warga Amerika yang leluhurnya adalah korban perbudakan, Hari Kemerdekaan bagi saya sangat berarti. bagi saya, suara-suara itu adalah simbol independensi dan juga suara kebebasan, ya walaupun terdengar agak klise," kata Walker.
Pyrotecnico, perusahaan yang ditunjuk untuk menggelar pesta kembang ini, mempromosikan proyek Freedom250 sebagai puncak acara yang 'tak terlupakan' dari rangkaian pertunjukan, atraksi pesawat terbang, dan aksi akrobatik di Nationall Mall. Mereka mengeklaim acara ini akan menyedot ratusan ribu pengunjung dan menganggap pesta ini sebagai momen bersejarah sekali seumur hidup.
"Kembang api adalah tradisi Amerika yang sudah mendarah daging. Acara seperti ini membangkitkan kenangan masa kecil dan menjadi momen baru. Ini adalah alasan untuk berkumpul dan merayakannya bersama," kata Jodi Dague, direktur pemaksaran Pyrotecnico.
(dmi)
Add
as a preferred source on Google


















































