Alasan Mossad Pecat 2 Pejabat Senior usai Gagal di Iran

3 hours ago 10

Jakarta, CNN Indonesia --

Badan intelijen Israel Mossad memecat dua pejabat senior mereka buntut kegagalan Negeri Zionis menggulingkan rezim Iran.

Media Israel Channel 12 melaporkan kedua pejabat yang dipecat, yakni kepala direktorat intelijen, yang baru diangkat beberapa bulan lalu, serta kepala divisi Iran. Identitas keduanya tidak diungkapkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Channel 12, misi penggulingan rezim Iran ini dimaksudkan untuk memicu perlawanan rakyat Iran terhadap pemerintah. Namun, bukannya terwujud, rencana tersebut gagal, bahkan tidak pernah mencapai tahap operasional.

Sumber-sumber keamanan mengatakan kepada Channel 12 bahwa kepala Mossad Roman Gofman sejak awal sudah bersitegang dengan kedua pejabat.

Pemecatan mereka pun terjadi di tengah perombakan besar-besaran dalam kepemimpinan dan prioritas Mossad, khususnya terkait Iran.

[Gambas:Video CNN]

Channel 12 menyatakan misi penggulingan rezim ini awalnya mencakup skenario untuk mengganti kepemimpinan Iran dan koordinasi dengan pejabat Amerika Serikat (AS) mengenai kemungkinan fase "pasca-rezim."

Namun, upaya itu terhenti di tahap awal, yang menyebabkan misi tersebut berujung ditangguhkan.

Tidak ada komentar resmi dari pemerintah Israel mengenai pemecatan pejabat Mossad ini.

Pada 13 Maret lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sempat menyatakan bahwa menggulingkan pemerintah Iran adalah rencana yang sulit dan sukar terjadi.

AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari lalu hingga meletuskan perang di Timur Tengah. Serangan gabungan itu menewaskan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Berbulan-bulan berlalu, konflik Timur Tengah itu masih saja panas.

Setelah pemimpinnya tewas, Iran langsung menunjuk pemimpin baru, yakni putra mendiang Khamenei, Mojtaba Khamenei, dan terus melancarkan perlawanan dengan menyerang situs-situs AS di Timur Tengah.

Presiden AS Donald Trump sempat dikabarkan kesal dengan Netanyahu karena prediksinya soal Iran nol besar. Sejumlah media AS menyebut Trump memutuskan menyerang Iran karena bujukan Netanyahu bahwa rezim Iran bisa digulingkan.

Namun faktanya, kepemimpinan pemerintahan teokratis itu justru utuh dan diteruskan oleh putra Khamenei.

Seiring dengan ini, Trump mulai mengecualikan Netanyahu dari pengambilan keputusan soal perangnya melawan Iran.

Pada 18 Juni, AS dan Iran meneken nota kesepahaman yang ditentang Israel, yang menjadi kerangka perjanjian damai kedua negara.

Namun, perundingan terkait perjanjian tersebut jalan di tempat karena panasnya situasi di Selat Hormuz.

(blq/blq/chri)

Read Entire Article
| | | |