Jakarta, CNN Indonesia --
Ratusan tentara Amerika Serikat (AS) di Qatar dan Bahrain dikabarkan dievakuasi dari pangkalan militer AS di kedua negara.
Laporan The New York Times pada Jumat (20/2) menyebut pasukan AS di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar, dan pangkalan-pangkalan Armada ke-5 Angkatan Laut AS di Bahrain telah dipindahkan ke lokasi yang tak disebutkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Informasi ini disampaikan oleh sumber anonim dari Pentagon kepada The New York Times di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran.
Menurut pengamat, penarikan pasukan ini mengindikasikan AS sedang bersiap untuk menyerang Iran.
"[Pentagon tampaknya] mengantisipasi respons Iran yang dapat menjadi risiko signifikan bagi pangkalan-pangkalan Amerika di wilayah tersebut," kata Katherine Thompson dari Cato Institute, yang merupakan pejabat kebijakan senior di Pentagon selama tahun pertama pemerintahan Trump.
Pada Juni 2025, AS menyerang situs-situs nuklir Iran saat Teheran berperang dengan Israel. Sejumlah besar personel militer AS diangkut ke stadion sepak bola hingga pusat perbelanjaan sebelum Iran balas menyerang pangkalan AS di Qatar.
Pangkalan Al Udeid adalah pangkalan terbesar Washington di Timur Tengah yang menampung sekitar 10.000 tentara.
Dalam surat yang dikirim pada Kamis ke Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres, Duta Besar Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani menegaskan Iran akan menyerang "semua pangkalan, fasilitas, dan aset pasukan musuh di kawasan" apabila diserang.
"Amerika Serikat akan memikul tanggung jawab penuh dan langsung atas segala konsekuensi yang tidak terduga dan di luar kendali," ucapnya.
Pasukan AS saat ini tersebar di Qatar, Bahrain, Irak, Suriah, Kuwait, Arab Saudi, Yordania, dan Uni Emirat Arab. Para prajurit Washington tetap berada di pangkalan masing-masing kecuali pangkalan Qatar dan Bahrain.
Komando Pusat militer AS (CENTCOM), yang meliputi wilayah Iran dan sekitarnya, hingga kini belum memberikan komentar.
Sejak Januari 2026, Pentagon telah melakukan pengerahan militer terbesar di Timur Tengah dalam dua dekade terakhir. Tindakan ini menyusul demo berdarah Iran yang menewaskan ribuan orang.
Presiden AS Donald Trump awalnya menyatakan pengerahan armada ke Timur Tengah dilakukan untuk membantu rakyat Iran melawan represi otoritas. Namun, belakangan Trump menggunakan negosiasi nuklir sebagai dalih pengerahan armada.
AS dan Iran saat ini sedang dalam pembicaraan terkait program nuklir Iran. Trump mendesak Iran untuk segara membuat kesepakatan jika tak mau diserang.
Kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln saat ini sudah siaga di sekitar Iran. Pesawat-pesawat tempur Washington di berbagai pangkalan Timur Tengah juga sudah mulai dipanaskan.
Bahkan, kapal induk induk terbesar di dunia, USS Gerald R Ford, saat ini sedang menuju Timur Tengah dari Venezuela.
Pada Jumat (20/2), Trump mengatakan kepada wartawan bahwa ia sedang mempertimbangkan serangan militer terbatas untuk menekan Iran segera mencapai kesepakatan.
(blq/end)


















































