Jakarta, CNN Indonesia --
Amerika Serikat (AS) untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade melakukan intervensi di pasar valuta asing dengan membeli yen Jepang.
Langkah tersebut dilakukan bersama pemerintah Jepang untuk menopang nilai tukar yen yang terpuruk hingga mendekati level terendah dalam 40 tahun terhadap dolar AS.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pembelian yen dilakukan sebagai bentuk dukungan kepada Jepang yang tengah menghadapi pelemahan mata uang akibat gejolak ekonomi global dan lonjakan harga energi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka memiliki yen yang melemah dan mereka membutuhkan sedikit bantuan. Kami selalu ada untuk Jepang," kata Trump kepada wartawan di atas Air Force One, Minggu (2/8), seperti dikutip dari CNN, Senin (3/8).
Trump menyebut langkah tersebut merupakan "sinyal persahabatan" sekaligus diyakini akan memberikan manfaat bagi perekonomian global.
Intervensi bersama itu mengonfirmasi aksi yang dilakukan pemerintah AS dan Jepang pada Jumat (31/7) untuk membendung pelemahan yen yang terus berlanjut sepanjang tahun ini.
Depresiasi yen semakin dalam setelah perang Iran memicu kenaikan harga energi.
Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama mengatakan intervensi tersebut bertujuan meredam gejolak nilai tukar yang dinilai berlebihan dalam beberapa bulan terakhir.
"Tindakan ini mengatasi volatilitas yang berlebihan dan pergerakan yen Jepang yang tidak teratur dalam beberapa bulan terakhir," ujar Katayama.
Laporan Financial Times sebelumnya menyebut Federal Reserve Bank of New York menjual euro dan membeli yen atas nama Departemen Keuangan AS.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga menegaskan pemerintah siap kembali melakukan intervensi apabila diperlukan.
"Kami sangat mendukung langkah tegas Jepang di pasar dan kebijakan moneternya untuk mengoreksi pelemahan yen yang sangat besar," ujar Bessent melalui akun X.
Foto Reuters dari rapat kabinet Presiden Trump di Camp David bahkan memperlihatkan catatan Bessent bertuliskan "To Do: Buy Japanese Yen (JPY) US$5-10 bil" atau membeli yen Jepang senilai US$5 miliar hingga US$10 miliar.
Meski merupakan salah satu ekonomi terbesar di dunia, Jepang telah lama bergulat dengan pelemahan mata uangnya.
Setelah mengalami resesi dan deflasi berkepanjangan sejak 1990-an, Jepang mempertahankan suku bunga sangat rendah bahkan negatif selama bertahun-tahun untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Meski Bank of Japan mulai menaikkan suku bunga pada 2024, level suku bunganya masih jauh di bawah negara-negara maju lain, terutama AS.
Kondisi tersebut mendorong investor meminjam yen untuk kemudian berinvestasi pada aset dengan imbal hasil lebih tinggi di negara lain.
"Perbedaan suku bunga yang terus lebar telah mendorong investor internasional meminjam atau melakukan short terhadap yen dan mengalihkan dana ke mata uang dengan imbal hasil lebih tinggi," kata Senior Fellow Atlantic Council Hung Tran.
Selain itu, investasi luar negeri perusahaan-perusahaan Jepang dan keuntungan yang tetap disimpan di luar negeri turut memberi tekanan terhadap yen.
Perang Iran juga memperburuk kondisi Jepang yang sangat bergantung pada impor energi dan pangan.
Kenaikan harga minyak dan gas meningkatkan inflasi sehingga menggerus daya beli masyarakat.
Sejumlah analis menilai intervensi terbaru hanya akan memberi efek sementara terhadap penguatan yen.
Kepala Strategi Valuta Asing dan Suku Bunga Jepang Bank of America Securities Shusuke Yamada mengatakan intervensi pasar umumnya hanya dapat "membeli waktu" tanpa mengubah tren jangka panjang.
Senada, Barclays memperkirakan dampak intervensi kali ini memang lebih besar karena dilakukan bersama oleh AS dan Jepang. Namun, tekanan fundamental terhadap yen masih akan tetap ada dalam jangka panjang.
(lau/sfr)


















































