Jakarta, CNN Indonesia --
Harga rata-rata cabai rawit secara nasional menembus Rp81.052 per kilogram (kg) per Kamis (10/9).
Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyebut fluktuasi harga dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari kemarau berkepanjangan hingga serangan organisme pengganggu tanaman (OPT).
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan dinamika harga dan pasokan cabai rawit perlu segera direspons, terutama di daerah yang mengalami kenaikan harga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah pun akan memobilisasi stok dari daerah surplus ke wilayah yang mengalami kekurangan pasokan melalui program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP).
"Untuk cabai rawit, berdasarkan informasi dari Kediri, saat ini terdapat dinamika harga dan pasokan yang perlu segera kita respons. Karena itu, kami ingin berkoneksi kembali dengan teman-teman Kementan untuk melihat wilayah mana yang dapat kita dukung melalui FDP," ujar Ketut dalam keterangan resmi, Jumat (11/9).
Program FDP sebelumnya digunakan pemerintah bersama petani Champion Cabai untuk mengalirkan pasokan dari daerah dengan harga relatif terjangkau ke wilayah yang mengalami lonjakan harga.
Ketut mengatakan skema serupa akan kembali didorong dengan melibatkan petani Champion Cabai binaan Kementerian Pertanian. Stok dari daerah surplus akan didistribusikan ke wilayah yang harga cabainya relatif tinggi.
"Misalkan di daerah di luar Jawa yang harganya relatif masih terjangkau, sehingga kita bisa FDP ke wilayah-wilayah yang harganya tinggi. Kita undang kembali para petani champion kita untuk membantu distribusikan ke wilayah-wilayah yang harganya relatif tinggi," ujar Ketut.
Berdasarkan hasil rapat koordinasi Bapanas bersama petani cabai pada 26 Agustus 2026, terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan harga cabai rawit berfluktuasi.
Salah satunya adalah kemarau berkepanjangan yang memengaruhi produksi. Selain itu, tanaman cabai juga menghadapi serangan OPT, antara lain trips dan kutu kebul. Faktor lain yang disebut turut memengaruhi pasokan adalah adanya alih tanam dari cabai ke komoditas lain.
Meski demikian, Kementan menyatakan produksi cabai rawit secara nasional masih mencukupi hingga akhir tahun.
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan Sudi Mardianto mengatakan produksi cabai rawit nasiona diperkirakan mencapai sekitar 119 ribu ton pada September. Sejumlah wilayah sentra produksi di Jawa Timur juga masih memiliki areal tanaman yang cukup besar.
"Untuk cabai rawit secara nasional itu produksinya di bulan September itu sekitar 119 ribu ton. Di Jawa Timur itu Banyuwangi standing crop yang ada sekarang sekitar 1.486 hektare. Kemudian di Sampang itu ada 1.691 hektare. Itu produksinya sudah mulai tinggi sekitar 5 ribuan," ujar Sudi.
Selain Jawa Timur, produksi cabai rawit di Pulau Jawa masih terpusat di Temanggung, Brebes, dan Magelang.
Menurut Sudi, produksi di wilayah tersebut masih relatif rendah karena sebagian besar tanaman baru memasuki masa tanam, tetapi diperkirakan dapat membantu memenuhi kebutuhan menjelang Natal dan Tahun Baru.
Bapanas mencatat program FDP cabai rawit yang telah dilakukan pada triwulan I 2026 mencapai 5.590 kg.
Distribusi tersebut meliputi mobilisasi 3.150 kg cabai rawit dari Enrekang, Sulawesi Selatan, ke Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta. Kemudian sebanyak 1.140 kg dikirim ke Lombok Tengah dan 1.300 kg ke Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.
Bapanas menyebut distribusi tersebut turut berkontribusi terhadap penurunan inflasi pangan pada April 2026.
Pada periode tersebut, cabai rawit menjadi salah satu komoditas yang menyumbang deflasi setelah tekanan harga pangan mereda pasca-Ramadan dan Idulfitri.
Untuk kondisi saat ini, petani cabai binaan Kementan juga disebut siap memasok wilayah yang mengalami kenaikan harga. Sudi mengatakan pasokan dari daerah produksi dapat kembali dimobilisasi apabila pemerintah menjalankan FDP.
"Mereka sudah bersiap untuk dapat membantu mengendalikan daerah-daerah yang harga cabai rawitnya tinggi. Mereka prinsipnya sudah siap untuk dapat membantu mensuplai daerah-daerah yang harganya cukup tinggi," kata Sudi.
Berdasarkan pantauan Bapanas per Kamis (10/9), rata-rata harga cabai rawit nasional berada di level Rp81.052 per kg.
Sulawesi Utara mencatat harga rata-rata tertinggi, yakni Rp152.872 per kg, sedangkan harga rata-rata terendah berada di Nusa Tenggara Timur sebesar Rp56.604 per kg.
(del/sfr)


















































