CNN Indonesia
Minggu, 22 Feb 2026 19:00 WIB
Ilustrasi. Menurut psikiater asal Austria, Alfred Adler, urutan kelahiran memengaruhi kepribadian seseorang. (iStockphoto/anurakpong)
Jakarta, CNN Indonesia --
Urutan lahir dalam keluarga kerap disebut berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian seseorang. Anggapan ini sudah lama populer dan sering dijadikan bahan candaan, baik dalam percakapan sehari-hari maupun di media sosial.
Melansir Verywell Mind, psikiater Austria sekaligus tokoh yang memopulerkan teori tentang pengaruh urutan kelahiran terhadap karakter, Alfred Adler, meyakini posisi seorang anak dalam keluarga memengaruhi perkembangan psikologisnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepribadian berdasarkan urutan lahir
Menurut Adler, setiap posisi memiliki pengalaman emosional yang berbeda dan pengalaman itulah yang memengaruhi karakter.
Mengutip berbagai sumber, berikut merupakan urutan kelahiran yang berpengaruh kepada karakter seseorang menurut teori Alfred Adler:
1. Anak sulung
Anak sulung sering kali menunjukkan serangkaian karakteristik berbeda karena posisi mereka dalam keluarga. Awalnya, anak sulung menjadi pusat perhatian orang tua.
Ketika adik lahir, perhatian tersebut terbagi. Perubahan ini diyakini mendorong anak sulung untuk menjadi teladan.
Adapun anak sulung cenderung memiliki perkembangan kognitif yang lebih maju. Selain itu, mereka sering diberi tanggung jawab lebih.
Hal ini membuat anak sulung kerap tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, disiplin, terstruktur, dan fokus pada pencapaian. Mereka juga cenderung memiliki standar tinggi terhadap diri sendiri ataupun orang lain.
Namun, ekspektasi besar dari keluarga bisa menjadi tekanan tersendiri. Tidak sedikit anak sulung yang merasa harus selalu tampil sempurna.
Penyebabnya, tak lain karena orang tua memiliki harapan lebih tinggi terhadap anak sulung dan berharap sosok kakak ini bisa menjadi contoh bagi adik-adiknya.
2. Anak tengah
Anak tengah berada di posisi unik, tidak menjadi yang pertama tetapi juga bukan yang terakhir. Posisi ini membuat anak tengah belajar beradaptasi dan menjadi penengah konflik.
Mereka sering berkembang menjadi pribadi yang fleksibel, diplomatis, dan mudah bergaul. Namun muncul pula istilah "middle child syndrome" alias anggapan bahwa anak tengah merasa kurang diperhatikan.
Beberapa studi menunjukkan, anak tengah bisa lebih kompetitif atau lebih sensitif terhadap penolakan. Hal ini karena mereka sering merasa diabaikan dibandingkan dengan kakak atau adik mereka.
3. Anak bungsu
Anak terakhir sering dianggap lebih dimanja karena orang tua biasanya sudah lebih berpengalaman dan cenderung lebih santai dalam mengasuh.
Menurut Adler, anak bungsu cenderung lebih sosial, spontan, dan berani mengambil risiko. Mereka kerap tumbuh menjadi pribadi yang hangat dan penuh daya tarik.
Namun, karena sering dibantu oleh kakak-kakaknya, sebagian anak bungsu bisa menjadi lebih bergantung. Di sisi lain, ada juga yang justru termotivasi untuk membuktikan diri agar tidak terus dibandingkan.
4. Anak tunggal
Anak tunggal sering disamakan dengan karakter anak sulung karena sama-sama mendapat perhatian penuh dari orang tua.
Mereka kerap digambarkan dewasa, perfeksionis, dan mandiri. Karena lebih banyak berinteraksi dengan orang dewasa, anak tunggal sering terlihat matang untuk usianya. Namun ekspektasi tinggi dari orang tua juga bisa membuat mereka lebih keras terhadap diri sendiri.
Meski demikian, sejumlah studi menemukan, perbedaan karakter antara anak sulung, tengah, bungsu, hingga tunggal tidak signifikan dalam aspek kepribadian utama maupun kemampuan kognitif.
Kepribadian dibentuk oleh kombinasi faktor yang jauh lebih kompleks, seperti genetika, pola asuh, kondisi sosial-ekonomi, jarak usia antar saudara, hingga kualitas hubungan dalam keluarga.
(nga/rti)

















































