Berstatus Aktif, Ini Alasan Gunung Dukono Jadi Destinasi Para Pendaki

2 hours ago 9

CNN Indonesia

Jumat, 08 Mei 2026 15:30 WIB

Jadi salah satu gunung berapi aktif di Indonesia, Gunung Dukono di Maluku Utara tetap jadi daya tarik bagi para pendaki. Ini alasannya. Ilustrasi. Gunung Dukono di Maluku Utara jadi daya tarik bagi para pendaki dan ilmuwan, ini alasannya. (istockphoto/ache leibo)
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Gunung Dukono di Maluku Utara saat ini sedang menjadi perhatian karena aktivitas vulkaniknya yang terus berlangsung. Letusan sempat terjadi pada Jumat (8/5) pagi, dan dilaporkan ada sekitar 20 pendaki yang masih terjebak di area gunung tersebut.

Meski berstatus sebagai gunung berapi aktif, Gunung Dukono tetap menjadi salah satu destinasi favorit para pendaki dan pecinta alam. Hal ini karena Gunung Dukono memiliki daya tarik sebagai objek petualangan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengapa Gunung Dukono tetap diminati meski berstatus aktif? Berikut ulasan yang dirangkum dari berbagai sumber untuk menjelaskan alasan gunung ini menjadi destinasi para pendaki.

Kekayaan alam Gunung Dukono

Gunung Dukono merupakan gunung berapi aktif di Pulau Halmahera, Maluku Utara, dengan ketinggian sekitar 1.235 mdpl. Keunikannya terletak pada perpaduan antara dinamika vulkanik dan keindahan ekosistem sekitar gunung.

Lokasinya berada di Desa Mamuya, yang menjadi titik awal menuju jalur pendakian, sekaligus wilayah perbatasan antara Tobelo dan Galela.

Secara historis, Gunung Dukono pernah mengalami letusan besar pada 1550, ketika lava dilaporkan memenuhi selat antara Pulau Halmahera dan lereng utara Gunung Mamuya.

Letusan besar berikutnya juga tercatat pada 1719, 1858, dan 1901. Setelah periode tersebut, Gunung Dukono diketahui mengalami aktivitas lebih kecil, tetapi cenderung berkelanjutan, dimulai sejak 1933 hingga sekarang.

Intensitas aktivitas vulkanik inilah yang membuat Gunung Dukono tampak "hidup" dan menyuguhkan pemandangan spektakuler bagi pendaki serta ilmuwan, karena menawarkan peluang ekowisata dan penelitian ilmiah.

Di luar aspek vulkaniknya, kawasan Gunung Dukono menawarkan alam tropis dengan variasi flora dan fauna. Hutan di sekitar gunung menjadi habitat bagi beragam spesies endemik, termasuk tanaman obat serta bunga-bunga langka.

Bagi peminat ekowisata dan riset ilmiah, kekayaan hayati di sekitar Gunung Dukono menciptakan daya tarik yang tak kalah kuat dibandingkan sekadar "naik gunung dan sampai puncak."

Jalur pendakian yang menantang

Walaupun berstatus aktif, jalur pendakian Gunung Dukono tetap dibuka dan banyak orang menjadikannya target petualangan. Jalur ini berada di Desa Mamuya, dengan titik awal yang kira-kira berada pada ketinggian 13 mdpl.

Untuk menjangkau desa, pendaki dapat menggunakan motor atau mobil jip. Setelah sampai, perjalanan dilanjutkan dengan pendakian kaki yang umumnya memakan waktu sekitar 5-6 jam.

Saat pendakian mencapai ketinggian sekitar 940 mdpl, biasanya akan dijumpai peralatan sensor vulkanologi.

Di sini ada pula puncak kecil bernama Gunung Dilekene, yang dikelilingi pasir vulkanik berwarna hitam. Nuansa lanskapnya sering dibandingkan dengan Gunung Bromo.

Saat mendaki lebih tinggi, pendaki bisa melihat gugusan pulau kecil serta Pulau Morotai dari kejauhan. Namun jalur pendakian menuju puncak bisa terasa lebih curam dan sempit, sehingga dibutuhkan kehati-hatian penuh.

Di area puncak, terdapat kawah Malupang Wariang yang menganga dengan perkiraan diameter 360 meter dan kedalaman 230 meter. Aroma belerang biasanya cukup kuat, sehingga penggunaan pelindung seperti masker dan kacamata sangat disarankan.

Persiapan sebelum mendaki Gunung Dukono

Sudah cukup banyak operator perjalanan yang menawarkan trip pendakian di gunung-gunung Maluku Utara, termasuk Gunung Dukono.

Agar pendakian berjalan lancar, persiapan harus dilakukan secara matang. Mulai dari perhitungan biaya transportasi, ketersediaan pemandu, hingga memastikan koneksi komunikasi dengan pihak lokal yang tepercaya.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan pendakian di gunung ini. Pertama, cek status Gunung Dukono melalui Pos Vulkanologi atau kantor resmi setempat di Desa Mamuya.

Tujuannya, untuk memastikan keamanan Gunung Dukono saat didaki pada waktu tersebut. Selain itu, pastikan pula aktivitas pendakian sudah memiliki izin resmi.

Setelah mendapat izin, pendaki biasanya perlu mengisi buku tamu agar keberadaannya tercatat. Persiapan lainnya, bawa air minum yang banyak dan gunakan pelindung masker untuk antisipasi debu vulkanik.

Terakhir, sebaiknya mendaki bersama pemandu lokal untuk mengurangi risiko tersesat serta membantu mengantisipasi kondisi lapangan yang berubah.

(rti)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |