BI Beberkan Alasan Kredit Tumbuh Lebih Kencang dari DPK

4 hours ago 6

Jakarta, CNN Indonesia --

Bank Indonesia (BI) mengungkap pertumbuhan kredit perbankan lebih kencang dibandingkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK). Kondisi tersebut membuat likuiditas sejumlah kelompok bank mengalami penurunan.

Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Alexander Lubis mengatakan secara industri, pertumbuhan DPK masih cukup kuat. Namun, lajunya belum mampu mengimbangi pertumbuhan kredit yang terus mengalami akselerasi.

"Kreditnya lebih kencang lagi. Dari kata saya gajinya naik, naik, kencang-kencang, tapi konsumsi saya lebih kencang lagi," ujar Alexander dalam Taklimat Media BI di Gedung BI Jakarta, Jumat (28/8).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Alexander, kondisi tersebut membuat terdapat perbedaan likuiditas di antara kelompok bank. Sebagian bank mengalami penurunan likuiditas karena pertumbuhan kreditnya lebih cepat, sementara kelompok bank lainnya masih memiliki likuiditas yang relatif besar.

"Kalau kita lihat pertumbuhan DPK-nya tidak se-akseleratif pertumbuhan kreditnya. Tubuh kencang, tapi kreditnya lebih kencang lagi," katanya.

Alexander mengatakan kondisi likuiditas perbankan juga dapat dilihat dari kepemilikan surat-surat berharga (SSB) yang dapat digunakan sebagai instrumen likuiditas. Sejumlah kelompok bank tercatat mengalami penurunan SSB karena membutuhkan likuiditas untuk mendukung penyaluran kredit.

[Gambas:Youtube]

"SSB-nya meningkat, khususnya beberapa nanti kelompok bank. Kalau secara industri, yes semuanya, tapi ketika kita masuk ke dalam detail kelompok bank, ternyata ada yang turun, ada yang naik," jelasnya.

Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan perbedaan perilaku bank dalam mengelola portofolio. Ada bank yang memilih meningkatkan penyaluran kredit sehingga kepemilikan SSB-nya menurun, tetapi ada pula bank yang justru mempertahankan dana dalam instrumen likuiditas.

"Nah, inilah yang kemudian yang jadi pertimbangan kami di slide selanjutnya, kenapa kita perlu mengeluarkan apa yang disebut dengan kebijakan insentif likuiditas makroprudensial," ujarnya.

Sementara itu, Bank Sentral ingin memastikan likuiditas perbankan tetap tersedia dan terdistribusi secara optimal untuk mendukung intermediasi. Untuk itu, BI mengubah skema pemberian insentif likuiditas makroprudensial (KLM) mulai 1 September 2026 dengan mempertimbangkan kondisi masing-masing bank.

Namun, Alexander menegaskan persoalan pertumbuhan kredit tidak semata-mata disebabkan oleh keterbatasan likuiditas perbankan. BI juga melihat masih ada persoalan permintaan kredit.

"Persoalan kredit ini tidak melulu soal supply, tapi yang mau kita pastikan adalah tidak ada permasalahan supply dengan permasalahan likuiditas," katanya.

Ia menjelaskan sejumlah korporasi sebenarnya masih memiliki fasilitas kredit yang telah disediakan perbankan. Namun, fasilitas tersebut belum seluruhnya digunakan karena dunia usaha masih mempertimbangkan kondisi ekonomi dan ketidakpastian yang ada.

"Kalau beberapa saya ketemu bank-bank itu ya, saya tuh pengen, Pak, sektor-sektor lain. Tapi mana sektornya? Atau siapa deh, Pak? Udah deh, Bapak tunjuk aja," ujar Alexander menirukan masukan dari perbankan.

Selain itu, dunia usaha masih menghadapi persoalan dalam menentukan arah ekspansi. Kondisi tersebut membuat permintaan kredit belum tumbuh secepat harapan BI.

Untuk itu, BI tak hanya mendorong sisi pasokan pembiayaan melalui kebijakan makroprudensial, melainkan juga memperkuat sisi permintaan kredit.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah mempertemukan perbankan dengan calon debitur melalui skema business matching. BI akan berkoordinasi dengan kantor perwakilan di daerah untuk mengidentifikasi pelaku usaha, termasuk UMKM, yang membutuhkan pembiayaan.

"Kita bikin business matching. Kita kumpulin nih siapa yang kita kerja sama dengan KPw-KPw, menurut kalian UMKM-UMKM yang ini," katanya.

Alexander mengatakan upaya tersebut diharapkan dapat mempertemukan bank yang memiliki kapasitas pembiayaan dengan pelaku usaha yang membutuhkan kredit.

"Supaya bisa lebih kencang lagi, swastanya ikut," ujarnya.

BI sendiri menargetkan pertumbuhan kredit perbankan pada 2026 berada di kisaran 8-12 persen. Alexander mengatakan realisasi sejauh ini masih berada dalam jalur target tersebut.

"So far sih masih on track dari target kami pertumbuhan kreditnya," tandasnya.

(lau/ins)

Read Entire Article
| | | |