BI Buka Suara Usai Rupiah Tembus Rp17.400 per Dolar AS

9 hours ago 13

Jakarta, CNN Indonesia --

Bank Indonesia (BI) buka suara setelah nilai tukar rupiah menyentuh kisaran Rp17.400 per dolar AS, level yang menjadi salah satu titik terlemah mata uang Garuda di tengah tekanan global.

BI menegaskan akan terus hadir di pasar guna menjaga stabilitas rupiah agar tetap bergerak sesuai fundamental ekonomi domestik.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G Hutapea mengatakan pelemahan rupiah yang terjadi belakangan ini tidak berdiri sendiri, melainkan sejalan dengan depresiasi mayoritas mata uang negara berkembang lain sejak pecahnya konflik di Timur Tengah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bank Indonesia akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya," ujar Erwin dalam keterangan resmi, Selasa (5/5).

Menurut dia, sejak awal konflik geopolitik di Timur Tengah hingga saat ini, tekanan terhadap mata uang emerging market terjadi cukup merata.

Philippine peso tercatat melemah 6,58 persen, Thailand baht 5,04 persen, India rupee 4,32 persen, Chile peso 4,24 persen, sementara rupiah melemah 3,65 persen dan Korea won 2,29 persen.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah pergerakan rupiah yang kembali berada di level Rp17.410 per dolar AS pada perdagangan Selasa pagi. Posisi itu melemah 17 poin atau 0,10 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

BI menilai tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi sentimen eksternal, terutama meningkatnya ketidakpastian global akibat berlanjutnya eskalasi konflik geopolitik. Karena itu, bank sentral memastikan langkah stabilisasi terus dilakukan melalui intervensi berlapis di pasar keuangan.

Erwin menjelaskan BI mengoptimalkan intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Langkah tersebut, kata dia, dilakukan secara konsisten untuk menjaga keseimbangan pasar dan menahan gejolak nilai tukar di tengah tekanan global yang belum mereda.

"Bank Indonesia terus menegaskan komitmen untuk senantiasa hadir di pasar dan mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah," lanjut Erwin.

Sejumlah analis menilai tekanan terhadap rupiah masih bersumber dari penguatan dolar AS yang dipicu memanasnya tensi geopolitik global.

Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong memperkirakan rupiah masih berpotensi tertekan, meski pelemahannya terbatas karena pelaku pasar menanti rilis data produk domestik bruto (PDB) kuartal I Indonesia.

Senada, analis mata uang Ibrahim Assuaibi menilai penguatan indeks dolar AS menjadi faktor utama yang menekan mata uang Asia, termasuk rupiah.

Menurut dia, sentimen itu dipicu pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait upaya pembebasan kapal di Selat Hormuz, di tengah ketegangan yang terus meningkat di Timur Tengah dan Eropa Timur.

[Gambas:Youtube]

(del/pta)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |