Bukan Lagi Sekadar Tujuan Study Tour, Museum Kini Jadi Gaya Hidup

9 hours ago 4

CNN Indonesia

Rabu, 29 Jul 2026 18:30 WIB

Museum Taman Prasasti, Selasa (7/7) Museum Taman Prasasti, Jakarta. (CNN Indonesia/ Angela Merici)

Jakarta, CNN Indonesia --

Museum kini perlahan berubah wajah. Jika dulu identik dengan rombongan study tour sekolah, kini museum justru semakin ramai dikunjungi anak muda yang datang atas kemauan sendiri.

Mulai dari museum date, berburu stempel museum passport, hingga sekadar menikmati pameran terbaru, museum kini menjadi bagian dari gaya hidup generasi muda. Perubahan tren ini juga tercermin dari data kunjungan yang dimiliki Indonesia Heritage Agency (IHA).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepala Museum dan Cagar Budaya Indonesia Heritage Agency (IHA), Indira Estiyanti Nurjadin mengatakan, jumlah pengunjung museum yang berada di bawah naungan IHA mengalami lonjakan signifikan sejak lembaga tersebut mulai beroperasi.

"Karena Indonesia Heritage Agency baru dibentuk pada 2023 dan mulai beroperasi pada 2024, kami baru bisa membandingkan data dari 2024 ke 2025, Namun, kunjungan naik sekitar 218 persen," ujar Indira kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (11/7).

Jika dirinci, angka kunjungan mencapai 704.506 pada 2024. Angkanya kemudian naik drastis menjadi 1.536.375 kunjungan pada 2025.

Meski data 2026 masih dalam proses evaluasi, Indira mengatakan, sejumlah pemangku kepentingan telah melihat perubahan pola kunjungan museum di Indonesia.

"Kalau ini bukan kami yang bilang, tapi dari beberapa stakeholder, kunjungan ke museum sekarang sudah menjadi lifestyle," katanya.

Anak muda mendominasi kunjungan museum

Menurut Indira, tren tersebut terlihat dari profil pengunjung Museum Nasional. Kelompok usia 18-24 tahun menjadi penyumbang kunjungan terbanyak, menggeser dominasi rombongan pelajar yang selama ini identik dengan wisata museum.

"Pengunjung terbanyak justru usia 18-24 tahun. Mereka datang karena memang ingin datang, bukan lagi karena school trip," ujarnya.

Fenomena ini, kata Indira, menunjukkan museum telah berkembang melampaui fungsi edukasi formal.

"Kalau school trip kan tidak punya pilihan, harus ikut. Sekarang yang datang itu karena kesadaran sendiri. Makanya sekarang hashtag seperti museum date sudah sangat populer, terutama di Jakarta," katanya.

Museum Passport ikut dorong tren berkunjung

Museum TekstilMuseum Tekstil (CNN Indonesia/Angela Merici Keraf)

Salah satu program yang ikut mendorong antusiasme tersebut adalah Museum Passport, buku paspor yang memungkinkan pengunjung mengumpulkan stempel dari berbagai museum di Indonesia.

Program ini diluncurkan bertepatan dengan Hari Museum Internasional pada 18 Mei. Awalnya, Museum Passport hanya dirancang untuk 19 museum di bawah Indonesia Heritage Agency. Namun, konsep tersebut kemudian diperluas menjadi program nasional.

"Kami berpikir kenapa tidak dibuat lebih inklusif saja. Akhirnya, Museum Passport menjadi untuk seluruh Indonesia. Museum-museum di seluruh Indonesia bisa ikut berpartisipasi dengan membuat stempel mereka sendiri," kata Indira.

Museum Passport juga dilengkapi direktori lebih dari 300 museum yang telah terdaftar di Kementerian Kebudayaan, mulai dari Aceh hingga Papua. Menurut Indira, keberadaan direktori ini diharapkan membantu masyarakat menemukan museum-museum yang mungkin belum banyak dikenal.

"Kami ingin orang melihat, ternyata di daerahnya ada museum yang menarik untuk dikunjungi," tuturnya.

Inspirasi Museum Passport sendiri datang dari Jepang dan Korea Selatan, yang memiliki budaya mengumpulkan stempel di berbagai destinasi wisata.

"Kami melihat tradisi mengumpulkan stempel yang dulu populer seperti era 1980-an ternyata kembali menjadi tren di Gen Alpha. Kami mencoba mengambil momentum itu," kata Indira.

Desain Museum Passport pun disusun berdasarkan survei kepada generasi muda, mulai dari pemilihan warna hingga konsep visual agar sesuai dengan selera Gen Z dan Gen Alpha

"Dalam tiga hari, 5.000 Museum Passport sold out. Sekarang kami sudah mencetak lagi 15 ribu, jadi total sudah 20 ribu," timpal Indira.

Menurutnya, Museum Passport juga berhasil menjangkau komunitas baru yang sebelumnya tidak terlalu tertarik mengunjungi museum.

"Orang yang awalnya hanya tertarik mengumpulkan stempel, akhirnya masuk juga ke museumnya. Tidak apa-apa, yang penting mereka mulai datang," katanya.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya..

Add as a preferred
source on Google

Read Entire Article
| | | |