Fakta dan Makna Pantangan Imlek: Benarkah Bisa Pengaruhi Hoki?

3 hours ago 5

CNN Indonesia

Selasa, 17 Feb 2026 19:40 WIB

Pakar Feng Shui Angelina Fang membahas soal sejumlah pantangan saat Imlek, benarkah melanggarnya bisa pengaruhi hoki? Ilustrasi. Pakar Feng Shui Angelina Fang membahas soal sejumlah pantangan saat Imlek, benarkah melanggarnya bisa pengaruhi hoki? (istockphoto/InspirationGP)
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Ada beberapa tindakan yang dikatakan tak boleh dilakukan saat merayakan Imlek. Beberapa di antaranya tidak boleh makan bubur saat sarapan, menyapu rumah, bekerja, hingga keramas.

Di antara berbagai pantangan ini, benarkah kita tidak akan mendapat hoki jika melakukannya? Sebaliknya, akankah hoki datang jika tidak dilakukan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fakta dan makna pantangan saat Imlek

Pakar Feng Shui dari Feng Shui Consulting Indonesia, Angelina Fang, berbincang dengan CNNIndonesia.com mengenai sejumlah tradisi yang berkaitan erat dengan imlek ini.

Ia memaparkan bagaimana asal-usul tradisi ini muncul dan apa yang sebenarnya tak boleh dilakukan pada saat Imlek.

1. Larangan makan bubur

Dalam tradisi Tionghoa, bubur itu identik dengan makanan orang sakit. Adapun di hari spesial seperti Imlek, seseorang harus merasa hoki.

"Di hari itu kalau bisa kita harus merasa hoki dan pantas mendapatkan hoki, jadi makanlah seperti raja. Nikmati hari itu seperti orang yang bukan kekurangan atau orang yang sakit," ujar Angelina saat dihubungi pada Selasa (17/2).

Namun, sama seperti tradisi lainnya, Angelina menekankan larangan ini tidak mengikat. Ia mengatakan, melanggarnya tidak akan langsung membuat sial, tetapi mengikutinya juga tidak langsung mendatangkan hoki.

2. Larangan menyapu rumah

Mengenai larangan menyapu rumah saat perayaan Imlek, Angelina menceritakan asal-usulnya. Masyarakat Tionghoa biasanya bersembahyang pada malam sebelum Imlek untuk menyambut dewa kemakmuran atau Cai Shen.

Setelah bersembahyang dan memanjatkan doa, mereka akan menyalakan lampu seterang mungkin hingga keesokan harinya. Hal ini dilakukan agar Cai Shen bisa menemukan jalan menuju rumah untuk memberikan hoki.

"Jadi perumpamaannya, karena kita sudah menerima hoki dari malam sebelumnya, maka hokinya jangan disapu keluar," ucap Angela.

3. Larangan bekerja

Ada pula pantangan untuk bekerja di hari raya Imlek. Sama seperti larangan makan bubur, hal yang mendasarinya, yakni pada saat Imlek kita harus menikmati hari seperti raja.

"Tapi bukan berarti kita bekerja di hari itu, jadi sial ke depannya. Itu anggapan saja. Jadi, orang tionghoa itu kalau mau cuan, cuannya harus maksimal. Makanya ada tradisi jangan makan kayak orang sakit, jangan menyapu, jangan buang rezeki keluar, terus jangan bekerja," tutur Angelina.

Tradisi ini sebenarnya hanya untuk mengingatkan agar kita terlihat hoki dan pantas mendapatkan hoki pada saat Imlek.

4. Larangan keramas

Adapun asal-usul larangan keramas saat Imlek, akarnya sama dengan larangan menyapu di rumah. Karena dewa kemakmuran sudah memberikan hoki, mencuci rambut seolah-olah membuang rezeki yang sudah diberikan.

"Tapi menurut saya, sih, ini tradisi kepercayaan. Boleh dilakukan, tetapi jika tidak dilakukan tidak akan langsung membuat kita sial," ucap Angelina lagi.

Menurutnya, kondisi setiap orang berbeda. Misalnya, ada yang masih bekerja pada malam sebelumnya atau kehujanan dan sebagainya. Hal ini tentu membuat mereka harus keramas.

Lalu, apa yang tak boleh dilakukan saat Imlek?

Angelina mengatakan, menurut feng shui ilmiah, tidak mungkin hoki ditentukan dari perilaku kita pada satu hari, dalam hal ini saat perayaan Imlek. Namun jika harus memilih satu hal yang pantang dilakukan saat Imlek, yakni pertikaian dalam keluarga.

"Kalau ditanya berantem di hari H [Imlek] itu bisa sial, jawabannya bisa iya. Karena kita kan jarang ketemu keluarga. Kalau hari itu berantem, akan diingat seumur hidup," ujar Angelina.

Secara keseluruhan, ia memandang berbagai pantangan ini sebagai bagian dari tradisi yang memiliki makna. Orang bebas mengikutinya atau tidak.

"Jadi kalau enggak dilakukan, enggak apa-apa. Yes, for some people. Tetapi kalau orang tua kita atau generasi di atas kita mengharuskan, saran saya jangan berantem," ucapnya sambil bergurau.

(rti)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |