Garam Mana yang Paling Sehat? Ini Penjelasan Ahli Gizi

3 hours ago 8

CNN Indonesia

Kamis, 25 Jun 2026 15:15 WIB

Garam Mana yang Paling Sehat? Ini Penjelasan Ahli Gizi Ilustrasi. Beberapa jenis garam dianggap lebih sehat dan bisa menengurangi risiko penyakit. (AFP/CRISTINA QUICLER)
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Garam merupakan bumbu yang hampir selalu hadir dalam setiap masakan. Kini, pilihannya semakin beragam. Mulai dari garam beriodium, garam laut, hingga garam Himalaya, masing-masing kerap diklaim memiliki manfaat kesehatan tersendiri.

Tak sedikit pula yang meyakini bahwa jenis garam tertentu lebih sehat dibandingkan yang lain. Namun, benarkah demikian?

Pada dasarnya, hampir semua jenis garam tersusun atas natrium klorida. Natrium adalah mineral yang dibutuhkan tubuh untuk menjaga keseimbangan cairan, mendukung fungsi saraf, serta membantu kerja otot.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski penting bagi tubuh, konsumsi natrium yang berlebihan dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan stroke. Karena itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan orang dewasa membatasi konsumsi garam hingga kurang dari 5 gram per hari atau setara kurang dari satu sendok teh.

Lantas, dari berbagai jenis garam yang beredar di pasaran, mana yang paling sehat? Berikut penjelasannya:

1. Garam beriodium

Bagi sebagian besar orang, garam beriodium masih menjadi pilihan yang paling direkomendasikan. Iodium merupakan mineral penting yang dibutuhkan tubuh untuk memproduksi hormon tiroid.

Kekurangan iodium dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, mulai dari gangguan fungsi tiroid hingga hambatan pertumbuhan dan perkembangan otak pada anak.

WHO bahkan mendorong fortifikasi iodium pada garam konsumsi sebagai salah satu strategi kesehatan masyarakat yang paling efektif untuk mencegah kekurangan iodium. Inilah keunggulan utama garam beriodium yang tidak selalu dimiliki jenis garam lainnya.

2. Garam laut

Garam laut diperoleh melalui proses penguapan air laut dan sering dianggap lebih alami dibandingkan garam meja biasa.

Namun, menurut Mayo Clinic, kandungan natrium dalam garam laut dan garam meja relatif serupa jika dibandingkan berdasarkan beratnya. Perbedaan utama keduanya lebih terletak pada tekstur, ukuran kristal, rasa, dan proses pengolahan.

Artinya, mengganti garam meja dengan garam laut tidak otomatis membuat seseorang mengonsumsi natrium lebih sedikit.

3. Garam himalaya

Garam Himalaya atau Himalayan pink salt kerap dipromosikan sebagai pilihan yang lebih sehat karena mengandung berbagai mineral tambahan yang memberikan warna merah muda khas.

Mengutip WebMD, mineral tambahan tersebut memang ada, tetapi jumlahnya sangat kecil dan tidak cukup signifikan untuk memberikan manfaat kesehatan yang berarti.

Dengan kata lain, garam Himalaya tetap mengandung natrium dan konsumsinya tetap perlu dibatasi sebagaimana jenis garam lainnya.

4. Garam kosher

Garam kosher juga sering dianggap lebih sehat karena memiliki kristal yang lebih besar dan diproses dengan cara berbeda dibandingkan garam meja.

Padahal, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa garam kosher lebih sehat dibandingkan jenis garam lainnya. Perbedaannya lebih berkaitan dengan kebutuhan memasak.

Bentuk kristalnya yang lebih besar membuat garam kosher lebih mudah ditaburkan dan penggunaannya lebih mudah dikontrol. Karena alasan itulah garam ini banyak digunakan oleh para koki.

5. Garam rendah natrium

Selain garam biasa, tersedia pula garam rendah natrium atau salt substitute. Pada jenis garam ini, sebagian kandungan natrium digantikan oleh kalium.

WHO menyebut penggunaan garam rendah natrium dapat membantu menurunkan asupan natrium dan mengurangi risiko tekanan darah tinggi pada sebagian orang dewasa.

Meski demikian, garam jenis ini tidak cocok untuk semua orang. Mereka yang memiliki penyakit ginjal atau mengonsumsi obat-obatan tertentu sebaiknya berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu karena kandungan kaliumnya lebih tinggi.

Jadi, mana garam yang paling sehat?

Jika harus memilih, garam beriodium yang digunakan dalam jumlah secukupnya masih menjadi pilihan paling masuk akal bagi sebagian besar orang. Jenis garam yang paling sehat tidak ditentukan oleh warna, harga, atau label 'alami' yang melekat padanya. Faktor yang lebih penting adalah kandungan iodium, kadar natrium, serta jumlah yang dikonsumsi setiap hari.

Baik garam laut, garam Himalaya, maupun garam kosher tetap mengandung natrium sehingga tidak otomatis lebih sehat dibandingkan garam meja biasa.

Kesehatan tidak ditentukan oleh jenis garam yang digunakan, melainkan oleh kebiasaan mengonsumsinya. Bahkan garam yang paling mahal sekalipun tetap dapat berdampak buruk bagi kesehatan jika digunakan secara berlebihan.

(anm/tis)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |