Gen Z: Pakai Narkoba Enggak Keren, Malah Cupu

1 hour ago 5

CNN Indonesia

Senin, 29 Jun 2026 16:00 WIB

Bagi sebagian Gen Z, keren hari ini bukan lagi soal pulang pagi, terlihat paling bebas, atau berani mencoba hal-hal berisiko demi diterima pergaulan. Ilustrasi. Bagi sebagian Gen Z, keren hari ini bukan lagi soal pulang pagi, terlihat paling bebas, atau berani mencoba hal-hal berisiko demi diterima pergaulan. (iStockphoto/Alessandro Biascioli)

Jakarta, CNN Indonesia --

Bagi sebagian Gen Z, keren hari ini bukan lagi soal pulang pagi, terlihat paling bebas, atau berani mencoba hal-hal berisiko demi diterima pergaulan.

Keren justru terlihat dari hidup yang lebih tertata. Bisa bekerja, menjaga tubuh tetap sehat, mengatur uang, dan tidak mudah ikut-ikutan hanya demi diterima lingkungan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Michelle (22) merasakan perubahan itu. Baginya, anak muda yang menarik adalah mereka yang bisa menjaga hidup tetap seimbang.

"Orang yang punya work-life balance, bisa olahraga, punya duit, dan keluarganya enggak broken. Itu keren," kata Michelle kepada CNNIndonesia.com, Selasa (23/6).

Narkoba atau ikut serta dalam pesta semalam suntuk tak lagi mendapatkan tempat di tengah gen Z.

"Enggak [narkoba] lah. Itu anak muda zaman milenial mungkin keren. Zaman gen Z, [narkoba] udah enggak banget. Ngapain?" ujar dia.

Bagi perempuan kelahiran 2004 itu, memakai narkoba bukan tanda berani. Bukan pula cara untuk terlihat menarik di mata orang lain. Ia justru melihatnya sebagai pilihan yang tidak masuk akal, apalagi jika dilakukan hanya demi pengakuan dari lingkungan.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Galuh (bukan nama sebenarnya). Pria 25 tahun ini memahami bahwa penggunaan narkotika di luar keperluan medis justru berbahaya dan berisiko menimbulkan kecanduan.

"Kalau buat kelihatan gaul, menurut gue enggak relevan. Narkoba itu side effect-nya banyak, terus bikin candu," tambah pria 25 tahun itu.

Bagi dia, anak muda yang memakai narkotika demi terlihat keren justru tampak kehilangan arah.

"Kalau standar keren itu berdasarkan pakai narkoba, ya hidup lo enggak jelas. Menurut gue enggak keren, malah cupu," imbuhnya.

Penolakan terhadap narkoba tidak hanya muncul sebagai pendapat. Galuh bahkan pernah berada dalam situasi saat ia harus menolak ajakan memakai narkoba.

Perkenalannya dengan seorang teman membawanya ke sebuah ajakan untuk menggunakan zat-zat adiktif tersebut.

"Dia [temannya] pernah nawarin pakai [narkoba] bareng. Gue lupa jenisnya apa, tapi dia ngajak patungan Rp200 ribu seorang," katanya.

Ajakan itu langsung ia tolak.

"Gue tolak mentah-mentah. Kayak, najis, ngapain? Mending gue makan sushi," ujarnya sambil tertawa.

Meski menolak keras narkoba, keduanya tidak selalu memandang pengguna dengan kemarahan. Ada juga rasa iba, terutama kepada anak muda yang mencoba narkoba karena tekanan lingkungan atau sekadar ikut-ikutan teman.

"Kasihan sih. Kayak, ngapain? You only live once, ngapain dihancurkan kehidupannya sendiri," kata Michelle.

Ia menangkap pola itu bisa makin berbahaya ketika pergaulan yang awalnya hanya dekat dengan alkohol atau kebiasaan minum mulai merembet ke narkoba.

Karena itu, keberanian yang sesungguhnya, dalam pandangannya, bukan terletak pada mencoba narkoba, melainkan berani menolak dan keluar dari lingkungan yang tidak sehat.

"Kalau lingkungan lo sudah jelek, apalagi menjurus ke narkoba atau minum-minum, menurut gue harus punya keberanian buat keluar," pungkas Galuh.

(anm/asr)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |