Jakarta, CNN Indonesia --
Sejumlah negara, termasuk Indonesia, telah setuju untuk mengirimkan pasukan militernya ke Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) bentukan Board of Peace (BoP).
Juru Bicara Hamas Hazem Qassem mengatakan, pihaknya terbuka terhadap kehadiran pasukan internasional di wilayah tersebut, namun dengan beberapa syarat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami menginginkan pasukan penjaga perdamaian yang memantau gencatan senjata, memastikan pelaksanaannya, dan bertindak sebagai penyangga antara tentara pendudukan dan rakyat kami di Jalur Gaza tanpa mencampuri urusan internal Gaza," ujar Qassem, melansir AFP, Sabtu (21/2).
ISF sendiri menargetkan untuk memiliki 2 ribu prajurit, yang dilengkapi anggota kepolisian. Indonesia sendiri telah mengaku siap mengirimkan 8 ribu personel.
Hamas juga mengatakan, Israel harus berhenti melancarkan serangan saat rekonstruksi Gaza yang diinisiasi BoP dimulai.
"Setiap proses politik atau setiap pengaturan yang dibahas mengenai Jalur Gaza dan masa depan rakyat Palestina harus dimulai dengan penghentian total agresi," ujar Hamas dalam sebuah pernyataan, Kamis (19/2) malam waktu setempat.
Pernyataan itu disampaikan dalam merespons Israel yang bersikeras ingin agar para militan Hamas melucutkan senjata sebelum rekonstruksi dimulai.
Hamas juga menyebut, pengaturan masa depan Gaza harus dimulai dengan 'pencabutan blokade' dan penjaminan hak-hak nasional rakyat Palestina, utamanya soal kebebasan mereka menentukan nasib sendiri.
BoP sendiri telah menggelar pertemuan perdananya di Washington, AS, Kamis (19/2). Sejumlah negara telah menjanjikan rekonstruksi Gaza yang baik. Namun, pertemuan tersebut tidak menetapkan tenggat waktu bagi Hamas untuk melucutkan senjata atau bagi tentara Israel agar menarik diri dari wilayah Gaza.
Sejumlah negara, termasuk Indonesia, juga telah setuju untuk mengirimkan pasukan militernya ke Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) yang baru dibentuk di Gaza.
(asr)

















































