Ibu Hamil Pecahkan Rekor Hyrox, Dokter Ingatkan Tak Semua Bisa Meniru

6 hours ago 2

CNN Indonesia

Senin, 03 Agu 2026 21:00 WIB

Dokter kandungan mengingatkan agar ibu hamil tidak asal meniru untuk ikut kompetisi Hyrox. Begini penjelasannya. Ilustrasi. Dokter kandungan mengingatkan agar ibu hamil tidak asal meniru untuk ikut kompetisi Hyrox. Begini penjelasannya. (iStockphoto/miljko)

Jakarta, CNN Indonesia --

Seorang ibu hamil bernama Nabila Qadrianty menjadi sorotan setelah mengikuti kompetisi kebugaran Hyrox saat usia kehamilannya memasuki 24 minggu.

Aksinya ramai dibicarakan di media sosial lantaran Hyrox dikenal sebagai kompetisi yang menggabungkan lari dengan berbagai tantangan kekuatan dan daya tahan fisik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nabila mengikuti Hyrox Osaka pada 30 Januari 2026 di kategori Women's Open (35-39 tahun). Ia berhasil menyelesaikan perlombaan dalam waktu 2 jam 21 menit 37 detik, menempati peringkat ke-599 secara keseluruhan dan posisi ke-96 di kelompok usianya.

Pencapaian tersebut juga tercatat di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dengan nomor rekor 12753 pada 16 Juli 2026 sebagai wanita hamil pertama yang mengikuti kompetisi Hyrox pada usia kehamilan 24 minggu.

Lantas, apakah olahraga dengan intensitas tinggi seperti Hyrox aman dilakukan selama kehamilan?

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi dari Brawijaya Hospital, Niken P. Pangastuti menjelaskan bahwa ibu hamil pada dasarnya tetap dianjurkan aktif bergerak.

Aktivitas fisik dengan intensitas ringan hingga sedang bahkan bermanfaat untuk menjaga kesehatan ibu dan janin.
Meski demikian, bukan berarti semua ibu hamil bisa langsung menjalani olahraga berat seperti Hyrox. Niken menyebut kondisi setiap kehamilan berbeda sehingga tidak bisa disamaratakan.

"Tapi ya kembali lagi, tiap orang nggak bisa kita samakan. Mungkin dia memang stamina tubuhnya sebegitu kuatnya," kata dr Niken, seperti yang dikutip dari detikhealth, Jumat (31/7).

Ia menambahkan, selama ibu hamil rutin menjalani pemeriksaan kehamilan dan kondisi janin maupun ibunya dinyatakan baik, aktivitas fisik masih dapat dilakukan sesuai kemampuan tubuh.

"Selama dia rajin memeriksakan diri dan memantau perkembangannya baik-baik saja, tidak ada masalah dengan kondisi kehamilannya, rasanya sih kalau badannya masih bisa menoleransi, masih fine," tambahnya.

Menurut Niken, dalam kasus Nabila, besar kemungkinan yang bersangkutan sudah terbiasa menjalani latihan fisik intens sebelum hamil. Kebiasaan tersebut membuat tubuhnya telah beradaptasi dengan beban latihan yang tinggi.

Karena itu, ia mengingatkan masyarakat untuk tidak langsung meniru apa yang dilakukan atlet atau individu lain hanya karena terlihat mampu melakukannya.

"Sebenarnya sih, saya tidak pernah menyarankan. Apalagi yang tadinya nggak Hyrox, hamil tiba-tiba Hyrox. Cuman kalau yang sebelumnya udah, mungkin setting-an metabolisme dia sudah cukup tinggi," jelasnya.

Niken juga mengingatkan bahwa olahraga berat saat hamil tetap memiliki risiko, terutama bila dilakukan tanpa mempertimbangkan kondisi kesehatan ibu maupun janin.

Salah satu risiko yang perlu diwaspadai adalah meningkatnya peluang persalinan prematur. Kelelahan berlebihan dapat memicu pelepasan hormon tertentu yang berpotensi menyebabkan kontraksi.

Hal ini, lanjut Niken karena risiko prematuritas yang cukup besar. Misalnya, saat ibu hamil mengalami kelelahan tinggi, akan memicu hormon-hormon yang bisa mengakibatkan kontraksi.

Oleh karena itu, ibu hamil yang ingin tetap berolahraga disarankan berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter kandungan untuk memastikan jenis dan intensitas latihan sesuai dengan kondisi kehamilannya.

(anm/fef)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |