CNN Indonesia
Rabu, 04 Feb 2026 17:27 WIB
Ilustrasi. Vaksin Dangue untuk anak kini bisa diberikan kepada usia 4-18 tahun. (iStockphoto/jarun011)
Jakarta, CNN Indonesia --
Anak usia 4 hingga 18 tahun kini sudah bisa mendapatkan vaksin dengue. Imunisasi ini direkomendasikan sebagai bagian dari upaya pencegahan demam berdarah dengue (DBD), terutama pada kelompok usia anak dan remaja yang memiliki risiko tinggi mengalami komplikasi berat.
Ketua Satuan Tugas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Indonesia (IDAI), Hartono Gunardi, menegaskan bahwa vaksinasi dengue dapat menjadi perlindungan tambahan bagi anak-anak di Indonesia.
"Sejalan dengan persetujuan BPOM terbaru, imunisasi dengue direkomendasikan bagi anak-anak usia 4 hingga 18 tahun," ujar Hartono dalam acara yang digelar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) bertajuk Musim Hujan Risiko Dengue Meningkat: Saatnya Perkuat Perlindungan Jangka Panjang bagi Anak dan Dewasa, dengan dukungan PT Takeda Innovative Medicines di Jakarta, Rabu (4/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengingatkan bahwa demam berdarah dengue tidak boleh dipandang sebagai demam biasa. Pada kondisi tertentu, dengue dapat memasuki fase kritis yang membuat kondisi anak memburuk dengan cepat dan berisiko fatal bila tidak segera ditangani.
"Pada demam berdarah dengue, terdapat fase kritis di mana kondisi anak dapat memburuk dengan cepat dan bila tidak cepat dikenali serta ditanggulangi dapat berakibat fatal," lanjutnya.
Menurut Hartono, dengue dapat menyerang siapa saja tanpa memandang latar belakang keluarga atau lingkungan tempat tinggal. Anak tetap berisiko terinfeksi apabila terdapat penularan di sekitar rumah maupun sekolah.
Karena itu, orang tua perlu lebih waspada dan memahami tanda bahaya dengue, seperti nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, lemas berat, hingga penurunan kesadaran.
Selain menerapkan langkah pencegahan dasar seperti pemberantasan sarang nyamuk melalui 3M Plus, orang tua juga disarankan berkonsultasi dengan dokter mengenai vaksinasi dengue sebagai upaya perlindungan jangka panjang.
Dukungan lintas sektor dinilai penting dalam menekan beban dengue di Indonesia. Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, menyoroti besarnya dampak penyakit ini terhadap sistem kesehatan nasional.
"Pada 2024, lebih dari satu juta kasus rawat inap akibat dengue ditanggung BPJS Kesehatan dengan biaya hampir Rp3 triliun. Angka ini belum mencakup beban emosional yang dialami keluarga serta konsekuensi apabila terjadi wabah," ujarnya.
Infeksi dengue dapat terjadi sepanjang tahun, dengan risiko lebih tinggi saat musim hujan. Penyakit ini juga dapat menyerang lebih dari satu kali, dan infeksi berikutnya berisiko lebih berat.
Kondisi ini membuat pencegahan menjadi kunci penting dalam menekan dampak kesehatan, sosial, dan ekonomi akibat dengue.
Pencegahan dengue membutuhkan pendekatan komprehensif dan kolaboratif, mulai dari penerapan disiplin 3M Plus, peningkatan kewaspadaan terhadap gejala dan tanda bahaya, hingga vaksinasi dengue sebagai bagian dari strategi pencegahan menyeluruh.
Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) mendorong masyarakat untuk memahami risiko dengue dan langkah pencegahannya sebagai bagian dari upaya mendukung target nasional nol kematian akibat dengue pada 2030.
(tis/tis)
















































