Jakarta, CNN Indonesia --
Converse menarik iklan kampanye terbarunya dari media sosial dan meminta maaf setelah visual iklannya dikecam sebagai rasis.
Visual iklannya dianggap dianggap menyerupai simbol Ku Klux Klan (KKK) dan mengingatkan pada praktik lynching terhadap warga kulit hitam di Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Iklan tersebut merupakan bagian dari kampanye global Chuck 70 X dan menampilkan bintang K-pop Karina anggota girl group Aespa.
Kritik muncul setelah pengguna media sosial menyoroti bentuk tudung putih runcing dalam foto serta posisi sepatu yang dianggap menyerupai kaki korban lynching.
Dalam salah satu foto, Karina terlihat mengenakan rok putih sambil memegang sepasang sepatu Converse Chuck 70 berwarna hitam di samping tubuhnya. Di bagian tengah foto terdapat sorotan cahaya putih berbentuk segitiga.
Sejumlah pengguna media sosial menilai bentuk tersebut menyerupai tudung putih runcing yang identik dengan KKK, kelompok supremasi kulit putih di Amerika Serikat.
Posisi sepatu yang dipegang Karina juga menjadi sorotan. Sepatu yang menggantung di sisi tubuhnya dianggap menyerupai kaki korban lynching, istilah yang merujuk pada pembunuhan seseorang oleh massa tanpa proses hukum dan memiliki sejarah panjang terhadap warga kulit hitam di AS.
Karena itu, sejumlah pengguna media sosial menilai gabungan kedua elemen tersebut tidak sekadar menjadi persoalan estetika iklan, tetapi membawa simbol yang berkaitan dengan sejarah rasisme dan kekerasan terhadap warga kulit hitam.
Ada pula foto lain dalam kampanye tersebut yang menampilkan sejumlah model menaiki tangga untuk mengambil sepatu yang digantung di sebuah dahan pohon.
Rangkaian visual itu kemudian memicu pertanyaan tentang bagaimana iklan tersebut bisa lolos dari proses pemeriksaan sebelum dipublikasikan.
Converse minta maaf dan tarik iklan
Menanggapi kritik tersebut, Converse meminta maaf dan mengatakan telah menarik iklan dari kanal resminya.
"Kami minta maaf. Kami memahami mengapa gambar ini sangat mengganggu dan menyadari bahwa kami telah melakukan kesalahan," kata Converse seperti yang dikutip dari Los Angeles Times.
"Kami telah menghapusnya dari kanal kami dan sedang berupaya menghapusnya dari semua tempat di mana gambar tersebut muncul. Ini seharusnya tidak terjadi dan kami akan melakukan yang lebih baik," lanjut perusahaan itu.
Melansir AP News, Converse yang berbasis di Boston tidak memberikan keterangan lebih lanjut ketika ditanya mengenai proses pemeriksaan iklan, termasuk bagaimana materi tersebut bisa disetujui sebelum dipublikasikan.
Sementara Karina maupun agensinya, SM Entertainment, juga belum memberikan tanggapan.
Meski Converse sendiri telah meminta maaf atas kejadian tersebut, menurut banyak pengguna media sosial, permintaan maaf perlu disertai pertanggungjawaban.
"Dugaan adanya niat rasis yang disengaja memang belum terbukti, tetapi itu tidak menghapus dampaknya," ujar pendidik sekaligus penggemar Converse, Kendall C. Peacock.
Ia mempertanyakan siapa yang menyetujui iklan tersebut dan perubahan apa yang akan dilakukan setelah iklan ditarik.
Kontroversi seperti ini bukan hal baru bagi industri ritel dan fesyen. Sejumlah merek dan peritel sebelumnya juga pernah meminta maaf setelah produk atau materi promosi mereka dianggap menampilkan gambaran yang rasis.
AP News mencatat, bulan lalu brand Target menarik sebuah kostum Halloween anak dari toko setelah mendapat kecaman di media sosial. Produk tersebut dituding menyerupai karikatur rasial yang berkaitan dengan sejarah minstrel di Amerika Serikat.
(anm/fef)


















































