Iran Geram soal Serangan Baru AS: Penyesalan di Pihak Mereka!

6 hours ago 7

Jakarta, CNN Indonesia --

Iran mengecam serangan terbaru Amerika Serikat dan menilai Presiden Donald Trump melanggar gencatan senjata dan nota kesepahaman (MoU) yang baru diteken di Swiss.

Ketua Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menilai Trump telah menunjukkan dirinya tidak memiliki komitmen terhadap prinsip-prinsip perundingan maupun gencatan senjata.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pelanggaran gencar terhadap gencatan senjata ini, seperti yang selalu terjadi, hanya akan berujung pada kemunduran dan penyesalan di pihak mereka," kata Azizi seperti dikutip Al Jazeera.

"Saling menyalahkan tidak lagi berhasil," tambah Azizi melalui akun X miliknya.

Korps Garda Revolusi Iran pada Sabtu (27/6) menyerang lokasi-lokasi milik AS di kawasan Teluk.

Serangan mereka lakukan sebagai balasan atas gempuran yang dilakukan Amerika di Iran.

"Jika agresi tersebut terulang, tanggapan kami akan lebih luas daripada ini," ujar pihak Garda Revolusi, sebagaimana dikutip dari AFP.

Komando Pusat Militer (CENTCOM) Amerika Serikat (AS) pada Jumat memang kembali meluncurkan serangan di wilayah Iran. Mereka berdalih operasi ini dilakukan sebagai tanggapan atas serangan terhadap kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.

"Sebuah pesawat AS menyerang lokasi penyimpanan rudal dan drone Iran, serta fasilitas radar di pesisir pantai," ujar CENTCOM, melansir Anadolu.

Seorang pejabat senior AS mengatakan, empat target di sepanjang pantai Iran yang berbatasan dengan Selat Hormuz dan Pulau Qeshm dihantam oleh enam pesawat AS.

Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa Teheran meluncurkan setidaknya empat drone serang ke arah kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz. Pasukan AS, sebutnya, mencegah tiga di antaranya. Sementara satu drone yang tersisa menghantam kapal kargo dan memicu kerusakan.

Dalam akun media sosialnya, Truth Social, Trump menggambarkan serangan itu sebagai 'pelanggaran bodoh' terhadap perjanjian gencatan senjata.

Wakil Presiden AS JD Vance juga ikut mengancam Iran dengan mengatakan bahwa 'kekerasan akan dibalas dengan kekerasan'.

"Iran telah menandatangani perjanjian gencatan senjata. Kami telah menghormatinya. Jika mereka telah memiliki perbedaan pendapat tentang bagaimana nota kesepahaman (MoU) diterapkan, mereka dapat menghubungi kami melalui telepon," tulis Vance dalam unggahan media sosialnya.

(rds)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |