CNN Indonesia
Senin, 01 Jun 2026 14:25 WIB
Ilustrasi. Dari mana kecerdasan anak diturunkan, apakah dari ibu atau ayah? (istockphoto/Artem Peretiatko)
Jakarta, CNN Indonesia --
Anggapan bahwa kecerdasan anak berasal dari ibu masih kuat, meski faktanya dipengaruhi banyak faktor.
Kecerdasan bukanlah sifat yang diwariskan secara sederhana, seperti warna mata atau golongan darah. Para ilmuwan sepakat, kemampuan kognitif terbentuk dari kombinasi faktor genetik dan lingkungan yang saling berinteraksi sepanjang hidup seseorang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip Biology Insights, kecerdasan termasuk dalam kategori polygenic trait, yakni dipengaruhi oleh banyak gen sekaligus, bukan hanya satu gen tertentu.
Setidaknya ratusan gen berperan dalam membentuk kemampuan berpikir, memori, hingga pemecahan masalah.
Baik ibu maupun ayah, sama-sama menyumbang materi genetik yang memengaruhi kecerdasan anak. Faktor hereditas atau pewarisan gen ini diperkirakan menyumbang sekitar 40-80 persen variasi kecerdasan, tergantung usia dan kondisi seseorang.
Namun, angka tersebut tidak berarti kecerdasan sudah ditentukan sejak lahir. Gen hanya menjadi potensi awal yang masih sangat dipengaruhi oleh pengalaman hidup.
Mengapa ibu sering dianggap lebih dominan?
Salah satu alasan munculnya anggapan kecerdasan lebih banyak berasal dari ibu berkaitan dengan peran kromosom X.
Melansir dari Sciencing, kromosom ini diketahui membawa banyak gen yang berkaitan dengan fungsi kognitif. Perempuan memiliki dua kromosom X (dari ibu dan ayah), sedangkan laki-laki hanya memiliki satu kromosom X yang diwarisi dari ibu.
Ini artinya, pada anak laki-laki, kontribusi genetik terkait kecerdasan dari ibu bisa menjadi lebih dominan karena hanya ada satu sumber kromosom X. Adapun pada anak perempuan, kombinasi gen dari kedua orang tua tetap berperan.
Selain itu, beberapa penelitian juga menunjukkan adanya fenomena genomic imprinting, yakni gen tertentu dari ayah yang berkaitan dengan fungsi kognitif bisa dinonaktifkan, sehingga memperkuat peran gen dari ibu dalam aspek tertentu.
Sebuah penelitian pada tikus menunjukkan gen yang berasal dari ibu cenderung aktif di bagian otak yang berkaitan dengan pemikiran kompleks. Misalnya, korteks serebral area yang berperan dalam bahasa, logika, dan pengambilan keputusan.
Adapun gen dari ayah lebih banyak terlibat pada sistem limbik, yang berkaitan dengan emosi, motivasi, dan respons dasar.
Di luar faktor genetik, lingkungan memiliki peran yang tidak kalah besar dalam membentuk kecerdasan anak. Ada beberapa hal lain yang mempengaruhi perkembangan otak anak:
- Asupan nutrisi sejak dalam kandungan
- Stimulasi di usia dini
- Kualitas pendidikan
- Pola asuh orang tua
Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang suportif, penuh interaksi, dan kaya stimulasi cenderung memiliki perkembangan kognitif lebih optimal.
Bahkan, bidang ilmu epigenetik menunjukkan, pengalaman hidup dapat "mengaktifkan" atau "menonaktifkan" gen tertentu tanpa mengubah struktur DNA. Hal ini berarti, kecerdasan bukan sesuatu yang statis, melainkan bisa berkembang seiring waktu.
Ibu memang memiliki peran penting melalui kromosom X dan beberapa mekanisme genetik tertentu. Namun, ayah tetap berkontribusi besar melalui gen lain di luar kromosom tersebut. Di atas itu semua, faktor lingkungan menjadi penentu bagaimana potensi genetik itu berkembang.
(nga/rti)
Add
as a preferred source on Google


















































