Kepala Badan Geologi: Dentuman Jabar Diduga Berkaitan Anak Krakatau

3 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Gunung Anak Krakatau di wilayah Selat Sunda erupsi hingga menghasilkan gemuruh. Badan Geologi mengungkap erupsi menyerupai lava fountain atau lava air mancur yang menghasilkan aliran lava dengan semburan merah menyala.

"Tinggi kolom erupsi tidak teramati, akan tetapi warna merah menyala semburan erupsi terlihat jelas secara menerus. Fenomena erupsi ini menyerupai "lava fountain" atau lava air mancur yang menghasilkan aliran lava. Erupsi menerus dalam durasi beberapa jam yang berasosiasi dengan erupsi lava air mancur adalah fenomena umum yang sering terjadi," kata Kepala Badan Geologi Lana Saria dalam keterangannya, Sabtu (5/9) seperti dikutip dari detik.com.

Lana mengatakan dentuman dan getaran yang dirasakan masyarakat di Jawa Barat, Banten dan Lampung diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Di mana, hal itu berlangsung pada waktu yang bersamaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Suara dentuman dan getaran yang dilaporkan masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung pada waktu bersamaan," ujarnya.

Erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini bertipe Strombolian. Erupsi menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik.

"Sejak 2 Juli 2026, status aktivitas Gunungapi Anak Krakatau berada pada Level III (Siaga). Seri erupsi tipe Strombolian yang menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik terus berlangsung hingga tanggal 5 September 2026. Pada tanggal 5 September 2026 pukul 23.07 WIB," katanya.

"Gunung api Anak Krakatau mengalami erupsi menerus yang disertai dengan suara gemuruh. Sampai saat ini tanggal 5 September 2026, pukul 04.40 wib masih berlangsung erupsi menerus dan masih terdengar gemuruh dari Pos PGA Krakatau Pasauran dari erupsi menerus GAK," imbuhnya.

Kendati demikian, kata Lana, erupsi tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Dia menyebut perkembangan aktivitas dan perubahan morfologinya tetap dipantau secara intensif.

"Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Meskipun demikian, perkembangan aktivitas dan perubahan morfologinya tetap dipantau secara intensif," katanya.

Lana mengatakan potensi ancaman bahaya erupsi saat ini berasal dari aliran lava yang dapat disertai dengan lontaran batu pijar. Status Gunung Anak Krakatau saat ini masih di level III atau Siaga.

"Hingga saat ini, status aktivitas Gunungapi Anak Krakatau masih dalam Level III (Siaga). Potensi ancaman bahaya erupsi saat ini berasal dari aliran lava yang dapat disertain dengan lontaran batu pijar," ujarnya.

Lana mengimbau masyarakat di sekitar tidak melakukan aktivitas di wilayah radius 3 km dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung juga diharapkan tenang dan dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan mengikuti arahan BPBD setempat.

"Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harap tenang dan dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat," ujarnya.

Seperti diketahui dilansir dari situs magma.esdm.go.id milik PVMBG, laporan disusun per enam jam dari pukul 00.00 sampai 06.00 WIB. Cuaca dilaporkan berawan hingga mendung, dengan angin lemah hingga sedang ke arah barat laut.

"Pengamatan visual: Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati," tulis pengamat gunung api Rioboniek Situmorang dalam laporannya

Disampaikan pula bahwa erupsi berlangsung secara terus-menerus sejak Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB hingga laporan dibuat pada Sabtu (5/9).

(agt)

Read Entire Article
| | | |