Ketahui Cara Mengenali Orang Pasif-Agresif yang Bikin Bete

8 hours ago 10

Jakarta, CNN Indonesia --

Suka dibikin bingung sama orang yang bilang, "Enggak apa-apa," tetapi menunjukkan sikap sebaliknya? Atau mungkin punya rekan kerja yang tampak setuju di depan, tetapi diam-diam menunda pekerjaan yang sudah diminta?

Perilaku seperti ini dikenal sebagai sikap pasif-agresif. Kalau menurut Verywell Mind, ini merupakan tindakan yang tampak biasa, netral, atau bahkan sopan, tetapi sebenarnya menyimpan agresi secara terselubung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Situasi seperti ini sering membuat orang lain lelah, kesal, dan akhirnya merasa disalahkan tanpa alasan jelas. Oleh karena itu, penting untuk tahu cara mengenali orang pasif-agresif agar kamu bisa merespons dengan lebih tenang dan tepat. Apa saja tanda-tandanya?

1. Memberi pujian terselubung

Menurut Time, pujian dari orang pasif-agresif sering terdengar seperti komentar manis, tetapi sebenarnya ada nada merendahkan di dalamnya.

Misalnya, ada rekan kerja yang memuji potongan rambut barumu dengan mengatakan, "Wah, rambutmu bagus, aku dulu juga pernah potong model itu waktu kuliah."

Kalimat ini terlihat seperti apresiasi, tetapi sebenarnya menyelipkan sindiran gaya rambutmu kurang trendy.

2. Menyisipkan disclaimer sebelum 'berpendapat'

Salah satu cara mengenali orang pasif-agresif, yakni dari kalimat yang diawali dengan pembelaan diri, lalu diakhiri dengan komentar menyakitkan. Contohnya, "Aku nggak mau terkesan jahat, tapi...," atau, "Aku bukan mau menghakimi, tapi..."

Setelah kata 'tapi', biasanya muncul ucapan yang menusuk. Pola ini menunjukkan agresi yang dibungkus seolah-olah sebagai kejujuran.

3. Sabotase diam-diam

Kalau sering nonton film atau sinetron, pemeran antagonis sering kali tampak baik di depan, tetapi menyabotase protagonis di belakang. Meski tidak sekejam di sinetron, orang pasif-agresif terkadang juga melakukan hal ini.

Hal yang dilakukan, mulai dari sengaja tak mengabarkan teman soal tenggat waktu pengumpulan tugas kuliah hingga membatalkan janji untuk acara penting. Alasannya? Lupa atau sibuk, sehingga tak sempat mengabari dari jauh hari.

Sering menunda pekerjaan jadi salah satu ciri orang pasif-agresif.Ilustrasi. Sering menunda pekerjaan jadi salah satu ciri orang pasif-agresif. (istockphoto/chartchai kanthathan)

Serupa seperti perilaku sabotase, orang pasif-agresif kerap menunda sesuatu, terutama jika hal itu berkaitan dengan orang lain.

Menurut Your Tango, penundaan ini bisa menjadi cara untuk menunjukkan penolakan tanpa harus berkata langsung. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini bisa merusak kepercayaan dan hubungan kerja.

5. Suka mengeluh diperlakukan tidak adil

Ketimbang mengungkapkan keinginan atau keberatannya secara terbuka, orang pasif-agresif sering memosisikan diri sebagai korban. Mereka merasa orang lain terlalu menuntut, terlalu keras, atau tidak memahami dirinya.

Dengan cara ini, mereka menghindari tanggung jawab atas sikap atau kemarahan yang sebenarnya mereka rasakan.

6. Tak memberi jawaban tegas

Orang pasif-agresif cenderung memberi jawaban yang membingungkan atau tidak tegas. Mereka bisa bilang "terserah", "liat nanti", atau "iya mungkin" tanpa benar-benar punya niat jelas.

Akibatnya, orang lain dibuat menebak-nebak hingga akhirnya frustasi sendiri. Jika ditanya ulang, mereka bahkan bisa membalikkan keadaan seolah-olah kamu yang salah paham.

7. Suka ghosting

Ghosting atau sengaja tak merespons orang lain juga termasuk perilaku orang pasif-agresif. Saat tidak suka pada seseorang atau sedang kesal, mereka memilih diam, menghindar, atau menghilang begitu saja.

8. Hitung-hitungan jasa dan kesalahan

Orang pasif-agresif sering menyimpan daftar dalam kepalanya tentang apa saja yang pernah ia lakukan untuk orang lain. Mereka juga mengingat semua hal yang menurut mereka 'merugikan' dirinya.

Sewaktu-waktu mereka mengungkapkan kembali jasa diri dan kesalahan orang lain terhadapnya untuk menyudutkan orang lain.

Dengan mengetahui cara mengenali orang pasif-agresif, kamu bisa menjaga batas dan tidak mudah terjebak dalam permainan emosi mereka. Bukan berarti semua orang yang diam atau menunda pekerjaan pasti pasif agresif, tetapi pola yang berulang perlu diwaspadai.

(rti)

Read Entire Article
| | | |