Kinerja BSI 2025 Moncer, Analis Optimistis Prospek Saham BRIS

2 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI/BRIS) mencatatkan kinerja keuangan yang solid sepanjang 2025. Laporan keuangan yang diumumkan pada Jumat (6/2), menegaskan posisi BSI sebagai Best Medium Size Bank di Indonesia, dan sejalan dengan proyeksi mereka.

Atas capaian tersebut, sejumlah analis perbankan dari perusahaan sekuritas merekomendasikan aksi "BUY" atau beli saham BRIS, dengan target harga (Target Price/TP) di kisaran Rp2.800 hingga Rp4.000 per saham.

Salah satu pendorong utama kinerja BSI adalah bisnis emas, seiring diperolehnya lisensi sebagai bank bullion. Kehadiran layanan ini telah meningkatkan jumlah nasabah yang signifikan menjadi 23,1 juta.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Layanan ini juga mendorong pendapatan berbasis komisi atau Fee Based Income (FBI) Perseroan yang meningkat 25,06% secara yoy, peningkatan tertinggi semenjak merger.

Demikian halnya dengan likuiditas yang juga turut bertumbuh sejalan dengan kenaikan bisnis emas dengan memberikan peningkatan yang signifikan dari sisi Tabungan dengan pertumbuhan 15,72% secara yoy.

Manajemen BSI memperkirakan bisnis emas ini akan menjadi motor penggerak tambahan dari lisensi bank syariah yang sudah berjalan selama 5 tahun terakhir dan menjadi katalis yang positif apabila dibandingkan dengan perbankan lainnya.

Hal ini diamini oleh Analis Bahana Sekuritas, M Razqi Kurniawan, dalam reportnya bahwa produk emas dioptimalkan sebagai pintu masuk untuk akuisisi nasabah baru, memperluas cross-selling, serta memiliki kualitas yang baik apabila dibandingkan dengan produk-produk lainnya.

Selain itu, Analis Citibank juga mengakui bahwa penurunan biaya dana BSI sejalan dengan pertumbuhan nasabah BRIS dan semakin banyaknya nasabah yang memiliki Tabungan haji.

Dengan posisi sebagai bank syariah dan bank bullion pertama di Indonesia serta berada langsung di bawah Danantara sejak Januari 2026, BRIS dinilai memiliki prospek pertumbuhan struktural dari bisnis keuangan syariah dan emas.

BRIS juga diharapkan membukukan kinerja lebih baik pada 2026 dengan proyeksi laba, berdasarkan konsensus Bloomberg, berada pada level Rp 8.8 Triliun.

BRIS baru saja mengumumkan kinerja keuangan 2025 pada Jumat (6/2). Aset tumbuh 11,64% (YoY) didorong dari pertumbuhan DPK sebesar 16,20% (YoY), di mana pertumbuhan DPK didominasi oleh dana murah yang tumbuh sebesar 19,09% (YoY). Dana Pihak Ketiga (DPK) BSI mencapai Rp380 triliun.

Adapun total pembiayaan di Desember 2025 tumbuh 14,49% (YoY) menjadi Rp319 Triliun, didorong oleh pertumbuhan bisnis emas yang cukup signifikan.

Pembiayaan Emas tumbuh signifikan sebesar 78,60% YoY menjadi Rp22,9 Triliun. Kualitas pembiayaan terjaga dengan NPF gross sebesar 1,81% membaik 9 bps dari tahun sebelumnya.

Dari sisi Profit and Loss, BSI mampu membukukan laba bersih sebesar Rp7,57 T tumbuh 8,02% (YoY). Pertumbuhan laba ini merupakan salah satu yang tertinggi di industry termasuk di antara Top 10 Bank termasuk bank pemerintah.

Salah satu kunci sukses laba BSI adalah karena BSI mampu menjaga CoF di level 2,58% dan CoC terjaga di level 0,84%.

Selain itu, strategi pertumbuhan adalah pada produk high yield mampu mendorong pendapatan margin bagi hasil tumbuh 11,74% YoY. Fee Based Income tumbuh 25,06% (YoY), terutama didorong dari pertumbuhan pendapatan pada bisnis emas.

"Kinerja solid BSI pada tahun 2025 ditopang berbagai faktor dan berjalannya fungsi intermediasi yang didukung pendanaan yang ample serta penyaluran pembiayaan yang sehat, tepat sasaran, dan juga kontribusi dukungan pembiayaan program yang sejalan dengan Astacita Pemerintah," ujar Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo.

Tahun 2025 BRIS juga mencatatkan pertumbuhan nasabah yang signifikan menjadi 23,1 juta, tertinggi sepanjang Sejarah merger.

(inh)

Read Entire Article
| | | |