Mengenal Shahed-136, Drone Murah Iran yang Bikin AS Kewalahan

3 hours ago 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Drone Shahed-136 milik Iran belakangan mendapat sorotan karena digunakan secara masif dalam perang melawan Amerika Serikat (AS)-Israel.

Sejak diserang pada 28 Februari, Iran mengerahkan ratusan, bahkan mungkin ribuan, drone Shahed untuk membombardir kedutaan besar AS di Timur Tengah, sistem radar, bandara, hingga gedung-gedung tinggi terkait AS dan Israel di kawasan.

Para ahli mengatakan drone Shahed dikerahkan sebagai taktik Iran untuk melemahkan musuh-musuhnya. Pasalnya, drone berbiaya murah dan mudah diproduksi ini tampak mulai berhasil menguras aset AS.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam sebuah pengarahan, Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat Dan Caine mengatakan bahwa armada nirawak Iran merupakan "ancaman" nyata bagi Washington.

Dikutip dari NBC News, Caine menyebut drone-drone itu telah menjadi target efektif sistem pertahanan udara AS, yang ia klaim berhasil melawan mereka.

Bagi para pengamat, pernyataan Caine ini bukan suatu bentuk kebanggaan. Hal ini dikarenakan yang terjadi adalah sistem pertahanan udara mahal AS dipakai hanya untuk menumpas drone murah, yang harganya jauh di bawah sistem rudal Washington.

Satu drone Shahed Iran diperkirakan memiliki harga antara US$30.000-50.000 (sekitar Rp505 juta-843 juta). Sementara pesawat atau sistem rudal Patriot AS bernilai 10 kali lipat dari itu.

"Jika (konflik) ini berlangsung lama, mereka mungkin harus menemukan cara yang lebih berkelanjutan," ujar Kelly Grieco, peneliti senior di lembaga think tank AS, Stimson Center.

Kyle Glen, peneliti dari organisasi nirlaba Center for Information Resilience di London, mengatakan Teheran telah memperhitungkan dengan cermat bahwa mereka akan menghadapi kekuatan militer yang lebih unggul.

Kesadaran ini mendorong Iran untuk mengeksplorasi peperangan asimetris, yakni upaya membuat frustrasi musuh yang lebih besar dan kuat secara teknologi dengan kemampuan seadanya namun efektif.

Pengerahan drone menjadi contoh utama dalam strategi tersebut. Shahed diproduksi dengan biaya murah menggunakan komponen dual-use dan diluncurkan dari belakang truk.

Drone-drone tersebut bisa dirakit diam-diam, tidak seperti rudal yang butuh infrastruktur besar dan produksinya mencapai jutaan dolar.

"Drone tersebut memang dirancang Iran untuk perang seperti ini," kata Glen.

Tak belajar dari Ukraina

Analis senior di lembaga think tank Institute for the Study of War, George Barros, mengatakan penggunaan aset mahal dan sulit diproduksi untuk menjatuhkan senjata tak canggih seperti drone Shahed menunjukkan kegagalan AS dalam mengambil pelajaran dari Ukraina.

Di perang Rusia-Ukraina, Kremlin menggunakan drone Shahed Iran untuk membuat Kyiv kewalahan. Menurut laporan C4ADS, Rusia memborong 6.000 unit teknologi tersebut dari Iran pada November 2022.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan 57.000 drone semacam ini telah diluncurkan Rusia ke kota-kota dan infrastruktur Ukraina hingga sekarang.

Untuk mencegat dan mempertahankan diri dari drone jenis ini, Ukraina membangun dan menggunakan sistem multi-arah yang melibatkan kelompok bergerak, pesawat nirawak pencegat, dan rudal-rudal lainnya. Sistem rudal Patriot AS adalah salah satu sistem pertahanan udara yang dipakai Ukraina melawan Rusia.

Barros menilai AS saat ini dalam posisi rentan. Jumlah konflik global terus meningkat, begitu pula tuntutan sekutu akan Patriot. Sementara AS sendiri cuma bisa memproduksi sekitar 600 unit per tahun.

Dengan kondisi ini, Iran dinilai sangat bisa membalikkan situasi. Iran bisa menembakkan amunisi murah mereka sebanyak dan selama mungkin sambil menyaksikan stok pertahanan AS menipis.

"Semua indikasi menunjukkan bahwa ini merupakan ancaman serius bagi dunia, bagi negara Barat, dan bagi stabilitas," kata analis di C4ADS, Omar Al Ghusbi.

Spesifikasi Shahed-136

Drone Shahed-136 diketahui memiliki panjang 3,5 meter dengan bentang sayap 2,5 meter. Beratnya mencapai sekitar 200 kilogram dan kecepatan luncurnya maksimal 185 km/jam. Jangkauan Shahed-136 mencapai sekitar 2.000 kilometer.

Sebagian besar Shahed-136 umumnya bergerak lambat. Drone ini juga cuma bisa membawa bahan peledak seberat 50 kilogram alias hanya bisa merusak gedung pencakar langit dan tidak bisa meruntuhkannya.

Namun, suara bisingnya, ukurannya yang besar, serta kemampuan terjun bebasnya mampu menciptakan teror. Shahed biasanya diprogram untuk jalur penerbangan yang kompleks dan terbang rendah di atas tanah guna menghindari deteksi radar.

Di Ukraina, drone ini dapat dikendalikan dari jarak jauh oleh operator, sehingga memungkinkan mereka mengubah haluan pada menit-menit terakhir.

Shahed-136 dirancang pada akhir dekade lalu dan pertama kali terlihat pada Juli 2021 dalam serangan terhadap kapal tanker minyak milik Israel, Mercer Street.

(sur/lom/sur)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |