Mengintip Sejarah Kegempaan Pacitan, Pernah Kena Tsunami 2 Kali

2 hours ago 4

Jakarta, CNN Indonesia --

Gempa berkekuatan M6,4 mengguncang wilayah Pacitan, Jawa Timur pada Jumat dini hari (6/2) sekitar pukul 01.06 WIB. Gempa ini mendapat sorotan cukup luas, karena getarannya yang terasa hingga wilayah Yogyakarta.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa yang mengguncang Pacitan ini tergolong sebagai sebagai gempa megathrust, karena mekanismenya yang berupa pergerakan naik atau thrust fault identik dengan aktivitas megathrust di selatan Pulau Jawa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Gempa Pacitan ini jenis gempa megathrust, yang tergambar dari mekanismenya yang berupa pergerakan naik (thrusting) dengan kedalaman dangkal," kata Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono, Jumat (6/2).

"Patut disyukuri bahwa gempa Pacitan ini tidak mencapai magnitudo 7,0 karena dapat berpotensi tsunami," lanjut dia.

Peristiwa ini mengingatkan kembali sejarah tsunami yang pernah melanda pesisir selatan Pulau Jawa, khususnya Pacitan.

Daryono menjelaskan Pacitan sempat digulung tsunami pada 4 Januari 1840. Ketinggian tsunami saat itu tidak diketahui secara pasti, tapi gempa kuat dirasakan di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur.

"Ini terjadi setelah gempa besar yang dirasakan jauh hingga Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan kemudian diikuti gelombang pasang/tsunami di Pantai selatan Pacitan," kata Daryono.

BMKG juga mencatat kejadian tsunami pada 20 Oktober 1859 di Pacitan. Menurut Daryono, peristiwa ini termasuk kejadian historis yang terkodokumentasi dalam katalog tsunami dan arsip kolonial.

Menurut Daryono saat itu gempa kuat disertai tsunami hingga menyebabkan beberapa orang meninggal dunia.

"Peristiwa Tsunami Pacitan 20 Oktober 1859 memang termasuk tsunami historis Jawa Timur yang korbannya tercatat, meski dokumentasinya tidak sedetail kejadian modern," ungkap dia.

Kenapa Pacitan sering muncul dalam sejarah tsunami?

Menurut Daryono, wilayah Pacitan kerap muncul dalam catatan tsunami historis. Ia mengatakan hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor.

Salah satunya, daerah ini berhadapan langsung dengan zona megathrust Jawa yang aktif dan menjadi sumber gempa besar.

Faktor lainnya, Pacitan yang berbentuk teluk dan pantai sempit di kawasan pesisir juga berpotensi mengamplifikasi gelombang tsunami ketika terjadi gempa besar. Tidak hanya itu, Pacitan juga diduga berada di atas segmen slab landai, sehingga kopling subduksi tergolong kuat.

Menurut Daryono, kondisi ini menjadikan wilayah selatan Jawa, termasuk Pacitan, memiliki potensi tsunami relatif lebih sering pada gempa besar, sebagaimana tercatat dalam sejarah.

Namun demikian, pada peristiwa dini hari tadi, BMKG melaporkan bahwa gempa tersebut tidak memicu gelombang tsunami. Oleh karena itu, warga diimbau untuk tetap tenang.

(dmi/dmi)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |