Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Muhaimin Iskandar, mendorong transisi ekonomi hijau sebagai peluang besar untuk memperluas lapangan kerja. Upaya ini bertujuan menciptakan nilai tambah nasional melalui keterlibatan masyarakat luas dalam menjaga kesejahteraan yang merata.
Dalam Kuliah Umum (Studium Generale) di Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), Rabu (11/2), ia menekankan bahwa green economy dan circular economy bukan sekadar agenda lingkungan. Sektor ini merupakan instrumen strategis untuk memberdayakan ekonomi akar rumput melalui pemanfaatan energi terbarukan.
"Green economy dan circular economy bukan sekedar agenda lingkungan melainkan peluang besar bagi tumbuh kembangnya ekonomi sekaligus pemberdayaan masyarakat kita. Dalam konteks energi terbarukan juga masyarakat harus terlibat dan menjadi bagian dari upaya untuk terus menumbuhkan berbagai kebutuhan kemajuan kita," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (11/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Muhaimin menjelaskan, sektor energi terbarukan, mineral kritis, agroindustri sirkular, hingga pengolahan sampah menjadi energi (waste-to-energy) menyimpan potensi besar bagi pemberdayaan masyarakat. Di sektor energi terbarukan, masyarakat dapat terlibat dalam rantai pasok manufaktur komponen, operasi dan pemeliharaan, hingga pengembangan bioenergi berbasis komunitas.
Pada agroindustri sirkular, limbah pertanian dapat diolah menjadi bioenergi dan biomaterial bernilai tambah sehingga petani dan koperasi naik kelas. Sementara skema skema waste-to-energy dan pengelolaan sampah modern membuka lapangan kerja baru sekaligus memperbaiki kualitas lingkungan.
"Inilah peluang nyata bagi masyarakat, khususnya masyarakat berpenghasilan rendah, bila pengelolaan pemilahan dan daur ulang e-waste ini dilakukan secara terorganisasi," ucap dia.
Ia pun menyoroti volume sampah elektronik (e-waste) global yang mencapai puluhan juta ton per tahun dan mengandung logam bernilai tinggi seperti tembaga, nikel, dan kobalt. Jika pengelolaan, pemilahan, dan daur ulang sampah elektronik dilakukan secara terorganisir dan berbasis teknologi, ini dapat menjadi sumber ekonomi baru terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Muhaimin menegaskan peluang besar tersebut hanya dapat terwujud melalui kerja sama antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan masyarakat. ITB dinilai memiliki peran strategis dalam membangun kapasitas SDM unggul, menetapkan standar teknologi, serta memastikan inovasi berdampak nyata.
"Dari kampus ini circular ekonomi harus bergerak dari konsep ke sistem, dari proyek ke ekosistem, dari wacana menjadi kehidupan nyata kita," pungkasnya.
Ia pun menegaskan bahwa industrialisasi yang hijau dan sirkular harus menjadi jalan Indonesia naik kelas agar lebih inklusif, berdaya saing, dan berkeadilan sosial.
(rir)
















































