Penilaian Kritikus soal Wuthering Heights

2 hours ago 4

CNN Indonesia

Senin, 16 Feb 2026 01:00 WIB

Kritikus menilai Wuthering Heights (2026) gagal tangkap jiwa novel original karena hanya jual estetika dan romansa yang hampa. Kritikus menilai Wuthering Heights (2026) gagal tangkap jiwa novel original karena hanya jual estetika dan romansa yang hampa. (Warner Bros. Pictures via IMDb)

Jakarta, CNN Indonesia --

Wuthering Heights (2026) merupakan film hasil adaptasi terbaru dari novel klasik bertajuk serupa karya Emily Brontë. Film garapan sutradara Emerald Fennell (Saltburn) itu dibintangi Margot Robbie bersama Jacob Elordi.

Film tersebut mendapatkan rating 64 persen dari 174 ulasan awal kritikus yang diolah Rotten Tomatoes hingga Jumat (13/2). Sebagian besar kritikus menyoroti keputusan Fennell mengadaptasi lepas novel tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Beberapa kritikus menilai film ini dianggap gagal menangkap kedalaman emosional yang menjadi fondasi novel Emily Brontë.

Clarisse Loughrey dari Independent UK memberikan kritik pedas dengan menyebut film ini sebagai karya yang sangat hampa.

"Film ini hanya menggunakan kedok interpretasi untuk menguras habis gairah dan kekerasan emosional dalam novel tersebut dan menggantinya dengan kiasan romansa yang sekadar laku di pasaran," kritik Loughrey.

[Gambas:Video CNN]

Kritik tajam juga datang dari William Bibbiani dari The Wrap. Ia menyoroti bagaimana Fennell memangkas cerita hingga ke tulang belulangnya dan justru melanggengkan fantasi aneh bahwa romansa ini jadi terlihat estetis.

"Film ini memiliki semua melodrama dan nafsu, tapi kehilangan seluruh kompleksitas aslinya."

Senada dengan itu, Lindsey Bahr dari Associated Press menilai pengalaman menontonnya tidak cukup berbahaya maupun membara untuk ukuran sebuah kisah cinta legendaris.

Namun, ada yang berusaha netral dengan menilai film tersebut masih bisa diterima jika benar-benar menganggapnya berdiri sendiri, bukan sebagai adaptasi yang riil dari novel Emily Brontë.

Peter Howell dari Toronto Star secara blak-blakan menilai menyebutnya sebagai kisah cinta yang sangat murahan seperti penonton mungkin berharap ada tombol untuk segerea menyudahi film tersebut.

"Lebih baik menerimanya apa adanya, sebuah kisah cinta sembrono yang sangat menyenangkan untuk ditonton, begitu murahan sehingga Anda hampir berharap ada tombol pelontar untuk membuangnya ke pinggir jalan setelah selesai."

Sedangkan Caryn James dari BBC memberikan catatan menarik. Ia mengakui film itu memang tidak setia pada novel aslinya, namun sangat setia pada ciri khas Fennell dari film-film sebelumnya.

Menurut James, Fennell sukses menunjukkan secara alami bagaimana seseorang bisa bersikap merusak saat keinginan mereka tidak terpenuhi.

"Memang tidak benar-benar seperti mengadaptasi novel Emily Brontë, tapi kita sudah tahu itu. Wuthering Heights ini sangat setia pada Fennell, sutradara drama balas dendam yang pedas, Promising Young Woman, dan kisah pahit tentang kelas dan obsesi, Saltburn," kata Caryn James.

Senada, Peter Debruge dari Variety juga menilai Fennell berhasil menangkap gairah fisik dan permainan kekuasaan antara Catherine dan Heathcliff yang selama ini jarang dieksplorasi secara eksplisit.

"Para puritan sastra mungkin keberatan dengan hal ini," kata Debruge. "Keputusan Fennell untuk memangkas bagian akhir buku dianggap sebagai langkah berani untuk fokus pada hasrat yang tak terucapkan."

Wuthering Heights (2026) tayang 11 Februari di bioskop Indonesia.

(chri)

Read Entire Article
| | | |