Review Film: Gohan

7 hours ago 2

Vandeniar Kennindya | CNN Indonesia

Jumat, 22 Mei 2026 20:15 WIB

Film Thailand Gohan (2026). (GDH 559 Co., Ltd.) Review film Gohan: film Thailand ini memberikan sebuah pandangan dalam memandang hidup. (GDH 559 Co., Ltd.)

140 menit yang berlalu dalam Gohan bukan hanya menguras air mata, tapi memenuhi relung hati.

Jakarta, CNN Indonesia --

Gohan bukan hanya menawarkan cerita seekor anjing yang mengalami tiga fase kepemilikan yang berbeda-beda. Lebih dari itu, film Thailand ini memberikan sebuah pandangan dalam memandang hidup.

Sedari awal dipromosikan, Gohan memang sudah memberikan kode bahwa film ini akan berserakan bawang yang menguras air mata. Hanya saja 140 menit yang berlalu bukan hanya menguras air mata, tapi memenuhi relung hati.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Naskah yang ditulis oleh Chayanop Boonprakob, Sopana Chaowwiwatkul, Atta Hemwadee, Baz Poonpiriya, dan Thodsapon Thiptinnakorn ini bagai sup ayam hangat yang dinikmati di rumah setelah berjuang lepas dari badai yang hebat.

Tim penulis berhasil memberikan cerita yang hangat, tetapi kaya akan rasa, tekstur, dan menghanyutkan. Membuat setiap perjalanan penonton mengikuti sedekade tiga babak hidup seekor anjing menjadi penelusuran makna kehidupan yang fana tapi abadi dikenang.

Setiap babak yang berpusat pada Gohan dengan seorang atau sepasang manusia memiliki konflik dan persoalan tersendiri yang disajikan dengan apik oleh Boonprakob, Hemwadee, dan Poonpiriya yang berembuk bersama sebagai sutradara.

Mulai dari kisah hidup bersama lansia bernama Hiro (Kitachima Yasushi) yang berisi komedi ringan dan natural yang menyenangkan, babak penuh drama dan penuh hal tak terduga saat bersama imigran gelap bernama Namcha (Poe Mamhe Thar), hingga mendewasa menghadapi berbagai kenyataan walau pahit bersama Pele (Jaonaay Jinjett Wattanasin) dan Jaidee (Tu Tontawan Tantivejakul).

Karakter anjing Gohan yang dibawakan oleh Kori saat masih puppy, Meechok saat muda, dan Hima saat tua, menemani penampilan solid empat aktor dalam tiga babak pertunjukan film ini.

Yasushi memberikan penampilan pas sebagai sosok kakek tua yang aktif, perfeksionis, tapi meninggalkan kesan positif sebagai pembuka perjalanan hidup. Yasushi dan Kori mampu menampilkan chemistry yang begitu hangat hingga bikin berlinang.

Film Thailand Gohan (2026). (GDH 559 Co., Ltd.)Review film Gohan: Setiap babak yang berpusat pada Gohan dengan seorang atau sepasang manusia memiliki konflik dan persoalan tersendiri. (GDH 559 Co., Ltd.)

Kolaborasi Thar bersama Meechok di babak kedua terbilang adalah cerita krusial dalam Gohan. Cerita nelangsa yang ditulis tim penulis mampu diimbangi dengan kekuatan karakter yang dibawakan oleh Thar, dan membuahkan perkembangan karakter untuk si anjing sebagai jembatan menuju babak yang paling mengoyak hati.

Meechok, Wattanasin, dan Tantivejakul adalah algojo untuk kantung mata para penonton. Wattanasin dan Tantivejakul adalah pasangan duet combo yang memainkan emosi cerita dan penonton dalam waktu bersamaan.

Sementara itu, si anjing Meechok mampu memberikan kelembutan dan kehangatan di antara huru-hara yang dibawa Wattanasin dan Tantivejakul. Namun kehangatan itu memang pada akhirnya bertujuan untuk menguras sisa-sisa air mata penonton, terutama saat kilas balik di sisa usia si anjing.

Cara digodok keroyokan oleh tim penulis dan tim sutradara rasanya menjadi keuntungan untuk Gohan yang bukan hanya unggul dalam merancang cerita, tetapi hingga detail-detail di dalamnya yang melengkapi keutuhan kisah.

Tim sutradara juga dengan cerdas membuka awal kisah dengan dog-eye, yang membuat penonton mampu memberikan ruang empati yang cukup untuk memahami cerita, sekaligus jadi sasaran empuk untuk dihantam cerita menguras emosi.

Phaklao Jiraungkoonkun, Pasit Tandaechanurat, dan Tawanwad Wanavit sebagai sinematografer secara konsisten mengajak penonton agar dapat melihat dan merasakan dunia dari perspektif Gohan.

Film Thailand Gohan (2026). (GDH 559 Co., Ltd.)Review Gohan: Phaklao Jiraungkoonkun, Pasit Tandaechanurat, dan Tawanwad Wanavit sebagai sinematografer secara konsisten mengajak penonton agar dapat melihat dan merasakan dunia dari perspektif Gohan. (GDH 559 Co., Ltd.)

Tim editor dan warna juga berperan dalam memainkan mood penonton. Sesuai dengan perjalanan hidup Gohan yang terbagi menjadi tiga fase, perubahan palet warna juga terlihat berdasarkan babak cerita pada film.

Pencahayaan dan atmosfer warna film ikut bertransformasi mengikuti suasana emosional cerita. Mulai dari warna hangat di awal hingga secara perlahan tapi pasti bergeser ke tone biru melankolis yang sendu dan depresif.

Tak lupa salut untuk tim wardrobe yang dipimpin Suthee Muanwong karena memberikan warna tersendiri dalam film ini lewat pilihan-pilihan fashion anyar khas Bangkok untuk Jaidee.

Secara keseluruhan tampilan visual Gohan terbilang hangat dan sederhana, tapi justru hal itu pula yang kian membangkitkan rasa emosional ketika menyaksikan tiga fase kehidupan Gohan.

Selain itu, Gohan membuktikan bahwa sebuah film yang menyentuh relung hati penonton bukan hanya hadir karena cerita yang digodok dengan matang, tetapi juga karakter-karakter di dalamnya yang jelas perannya, hingga sempilan-sempilan humor hingga momen yang sederhana tapi mengena.

Karena pada akhirnya, seperti yang sudah diajarkan oleh Gohan dan film-film GDH seperti How to Make Millions Before Grandma Dies, film bukan hanya sekadar pelarian dan hiburan dan mengeruk untung dari kantong penonton, tetapi sebuah refleksi akan kehidupan yang dijalani, baik dalam duka maupun suka.

[Gambas:Youtube]

(end)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |