Studi Ungkap Lari Maraton Picu Risiko Kanker Usus Besar

3 hours ago 6

CNN Indonesia

Sabtu, 27 Jun 2026 18:45 WIB

Studi menemukan, orang yang sering mengikuti ajang lari maraton berisiko terkena kanker usus besar. Ilustrasi. Studi menemukan, orang yang sering mengikuti ajang lari maraton berisiko terkena kanker usus besar. (iStockphoto/Pavel1964)

Jakarta, CNN Indonesia --

Maraton kini tengah menjadi tren tersendiri. Tapi, siapa sangka, studi justru menemukan, orang yang gemar mengikuti ajang lari maraton lebih rentan terkena kanker usus besar.

Melansir Health, studi yang dipresentasikan dalam konferensi American Society of Clinical Oncology menemukan adanya hubungan antara lari jarak jauh dengan penyakit tertentu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari 100 pelari serius yang diteliti dalam studi tersebut, sekitar 15 persen di antaranya memiliki prekursor kanker usus besar.

"Sebuah temuan yang menunjukkan bahwa berlari jarak jauh, bahkan maraton, adalah sebuah risiko," ujar Direktur Program Kanker Gastrointestinal di Inova Schar Cancer Institute, Timothi Cannon, yang terlibat dalam penelitian tersebut.

Para ahli meneliti sekitar 100 pelari berusia 35-50 tahun. Mereka bukanlah pelari santai. Mereka setidaknya telah menyelesaikan dua ultramaraton atau lima maraton biasa.

Semua peserta menjalani kolonoskopi. Prosedur ini dilakukan untuk mencari polip yang memiliki kemungkinan tinggi untuk berkembang menjadi kanker.

Hasilnya, sekitar 15 persen orang memilikinya.

"Saya sangat terkejut bahwa jumlahnya sebanyak itu," ujar Cannon.

Kendati demikian, studi ini juga memiliki beberapa keterbatasan. Studi masih berskala kecil yang secara khusus melibatkan sejumlah atlet. Informasi soal risiko kanker lainnya juga masih terbatas.

Selain itu, studi juga tidak melibatkan kelompok pembanding lain yang bukan pelari.

Dengan kata lain, studi ini belum membuktikan bahwa lari jarak jauh bisa menyebabkan kanker usus besar. Hanya saja, menurut para ahli, studi ini layak untuk dipertimbangkan dan diteliti lebih jauh.

Apa hubungan lari dengan kanker usus besar?

Selama lari jarak jauh yang melelahkan, tubuh untuk sementara mengalihkan aliran darah dari saluran pencernaan agar dapat mendukung otot-otot yang menggerakkan aktivitas tersebut.

Cannon menduga, para pelari ekstrem yang menghabiskan banyak waktu dalam kondisi tersebut mengalami perubahan fisiologis yang meningkatkan risiko kanker.

Ia juga menduga adanya perbedaan dalam mikrobioma usus antara pelari dan non-pelari.

Kendati demikian, bukan berarti Anda harus berhenti berlari. Terlepas dari hasil studi ini, banyak penelitian lain yang jelas-jelas membuktikan manfaat aktivitas fisik, termasuk lari, untuk mencegah kanker dan penyakit kronis lainnya.

Sebuah studi tahun 2014, misalnya, orang yang hanya jogging 5-10 menit per hari memiliki risiko kematian yang lebih rendah akibat berbagai penyebab, termasuk penyakit jantung.

Cannon juga tak mengajak siapa pun untuk berhenti berolahraga. Ia kembali mengingatkan bahwa aktivitas fisik apa pun bermanfaat untuk kesehatan.

Jika sering melakukan olahraga intens seperti lari maraton atau bersepeda jarak jauh, maka pastikan untuk selalu rutin melakukan pemeriksaan. Lakukan pemeriksaan secara menyeluruh jika mengalami gejala yang tidak biasa, seperti feses berdarah.

(asr)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |