Jakarta, CNN Indonesia --
Masker yang dinilai ideal dapat mencegah paparan abu vulkanik, yakni jenis masker N95 atau KN95 yang bisa memfiltrasi hingga 95 persen partikel.
Abu vulkanik memiliki partikel sangat halus yang mudah terhirup. Ditambah lagi ada campuran material lain seperti mineral, bebatuan, hingga silika yang berbahaya bagi pernapasan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, dalam situasi darurat, masker yang dibutuhkan justru sering sulit ditemukan di minimarket atau apotek karena diborong masyarakat. Salah satunya contoh kelangkaan ditemukan di wilayah Bekasi.
"Iya [masker] kosong. Semua varian kosong. Habis semua, pada beli karena banyak abu," ujar salah satu penjaga apotek di Bekasi pada Senin (7/9), seperti dilansir Detik.
Hal serupa terjadi di apotek lain di sekitarnya. Stok yang tersisa hanya berupa masker medis tiga lapis sebanyak dua kotak.
"Adanya ini doang, sisa ini. Satu kotak harganya Rp 21 ribu," kata penjaga apotek lainnya, Nathania.
Kondisi ini membuat banyak orang harus mencari alternatif masker sementara agar tetap bisa melindungi hidung dan mulut. Meski tidak seefektif N95, beberapa pilihan darurat tetap bisa membantu mengurangi paparan abu vulkanik.
Alternatif pengganti masker N95
Jika masker N95, KN95, masker medis, maupun masker non-medis sulit didapat, ada beberapa alternatif masker yang bisa digunakan dalam keadaan darurat.
Efektivitasnya memang jauh lebih rendah dibanding N95 dan jenis masker lainnya, tetapi Anda bisa menggunakannya dalam kondisi darurat hingga mendapatkan jenis masker yang ideal.
1. Kain penutup wajah
Bahan kain seperti bandana, kaus, kerudung, atau sapu tangan bisa digunakan untuk menutup hidung dan mulut.
Namun menurut International Volcanic Health Hazard Network (IVHHN), perlindungannya terbatas karena tidak mampu menyaring abu vulkanik sebaik masker khusus. Selain itu, bahan kain sering tidak menempel rapat di wajah sehingga masih ada celah udara.
2. Scooter mask atau masker fashion
Masker jenis hard-cup, masker fashion, dan scooter mask memang banyak dijual, tetapi tidak semuanya efektif. Jenis ini umumnya tidak dirancang untuk menyaring partikel halus dalam jumlah besar.
Dibandingkan masker industri atau masker medis, perlindungannya lebih rendah dan sering kali juga tidak pas di wajah.
3. Masker kain yang dipakai dobel
Jika Anda pernah menyimpan stok masker kain saat menghadapi pandemi COVID-19 pada 2020 lalu, ini saatnya untuk memanfaatkannya kembali.
Anda bisa menggunakannya secara dobel atau menyelipkan tisu untuk pengamanan ekstra, meski memang belum ada studi yang mendukung efektivitasnya.
Penggunaan masker bedah secara dobel memang jauh lebih efektif. Hal ini karena kemampuan filtrasi masker kain disebut hanya sekitar 10 persen.
4. Kain atau handuk basah
Saat tidak ada pilihan lain, kain basah atau handuk basah dapat digunakan untuk menutup hidung dan mulut.
Menurut Esquire Filipina, cara penggunaan ini dianjurkan oleh Philippine Institute of Volcanology and Seismology (Phivolcs) sebagai langkah darurat agar partikel abu tidak langsung terhirup.
Meski begitu, metode ini hanya bersifat sementara dan tidak boleh dijadikan perlindungan utama dalam jangka panjang.
Usahakan tetap memakai N95 atau KN95
Ilustrasi masker N95. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Dari semua pilihan yang ada, N95 atau KN95 tetap menjadi pelindung terbaik untuk menghadapi abu vulkanik. Masker ini memiliki daya filtrasi tinggi dan lebih efektif menahan partikel berbahaya.
Adapun jenis masker ini bisa dikenakan dalam jangka waktu lama, yakni hingga 40 jam. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk memastikan masker ini selalu berfungsi sebagaimana mestinya.
Masker N95 atau KN95 sebaiknya diganti jika sudah tidak menempel rapat di wajah. Saat dipakai, perhatikan apakah ada udara yang bocor dari sisi masker.
Jika ada celah, artinya daya lindungnya sudah menurun. Setelah dipakai berkali-kali, elastisitas masker juga bisa berkurang dan membuat perlindungan tidak optimal.
Dalam situasi adanya hujan abu vulkanik, memilih alternatif masker memang bisa menjadi solusi darurat, apalagi kalau masker langka. Namun, bila memungkinkan, tetap prioritaskan masker standar agar perlindungan terhadap saluran pernapasan lebih maksimal.
(rti)


















































