Tragedi Dukono: Terobos Zona Bahaya dan Bertaruh Nyawa Demi Konten

4 hours ago 2

CNN Indonesia

Senin, 11 Mei 2026 13:45 WIB

IABI menilai tindakan menerobos zona bahaya demi adrenalin dan konten media sosial merupakan bentuk kenekatan fatal yang mempertaruhkan nyawa. Erupsi Gunung Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara. (ANTARA FOTO/ANDRI SAPUTRA)

Jakarta, CNN Indonesia --

Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) memberikan sorotan tajam terhadap insiden erupsi maut di Gunung Dukono, Halmahera Utara, Maluku Utara. yang terjadi pada 8 Mei 2026.

IABI menilai tindakan menerobos zona bahaya demi adrenalin dan konten media sosial merupakan bentuk kenekatan fatal yang mempertaruhkan nyawa.

Anggota IABI, Daryono, menegaskan bahwa tragedi yang menelan korban jiwa di Maluku Utara ini menjadi pengingat keras bahwa peringatan otoritas adalah garis tegas antara hidup dan mati, bukan sekadar prosedur formalitas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Daryono menyebut mengabaikan larangan pendakian hanya untuk kepuasan sesaat adalah kesalahan besar. Saat gunung api menunjukkan aktivitas ekstrem, seperti kolom abu setinggi 10.000 meter dan muntahan lava pijar, tidak ada teknologi atau keberanian manusia yang mampu menandingi kecepatan aliran piroklastik.

"Aliran ini bergerak jauh lebih cepat daripada teriakan minta tolong. Jarak 20 hingga 30 meter dari bibir kawah bukan lagi tempat untuk dikagumi, melainkan titik di mana maut berdiri tepat di depan mata," ujar Daryono, seperti dilansir Antara, Senin (11/5).

Secara teknis, faktor utama penyebab kematian pada bencana gunung api meliputi, awan panas (pyroclastic cloud), lontaran material pijar, aliran lahar, hingga pelanggaran radius bahaya dan penolakan evakuasi

IABI mencatat sederet tragedi erupsi dunia yang seharusnya menjadi pelajaran bagi para petualang. Mulai dari Gunung Pelée (1902) yang menewaskan 29.000 orang, hingga kasus terbaru di Gunung Marapi (2023) yang merenggut 23 nyawa.

"Sejarah mengajarkan kita bahwa gunung tidak butuh izin manusia untuk meletus. Menembus jalur yang ditutup tidak hanya membahayakan diri sendiri, tapi juga mempertaruhkan nyawa tim SAR dan relawan yang harus menolong di bawah ancaman erupsi susulan," tegasnya.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sendiri telah menetapkan radius bahaya empat kilometer di Gunung Dukono sejak Desember 2024, disusul penutupan jalur pendakian oleh pemerintah daerah per April 2026.

Berdasarkan data sementara dari Basarnas, total terdapat 20 pendaki yang berada di kawasan tersebut saat erupsi Gunung Dukono terjadi. Sebanyak 17 orang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat, namun tiga orang lainnya dilaporkan meninggal dunia.

Identitas korban meninggal dunia di antaranya,
1. Timo (Warga Negara Singapura)
2. Sahnas (Warga Negara Singapura)
3. Inisial E (Warga Negara Indonesia)

Daryono berpesan agar masyarakat menghormati batas yang telah ditentukan oleh otoritas demi keselamatan bersama. "Taatilah zona bahaya, karena keselamatan adalah puncak tertinggi yang sebenarnya," pungkasnya.

(wiw)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |