Jakarta, CNN Indonesia --
Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) menandatangani kesepakatan dengan tujuh raksasa teknologi untuk menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) mereka di jaringan militer yang dirahasiakan. Perjanjian ini tidak melibatkan Anthropic, yang sebelumnya menjadi satu-satunya mitra AI Pentagon.
Pentagon mengumumkan perjanjian tersebut pada Jumat (1/5) dengan perusahaan-perusahaan seperti SpaceX, OpenAI, Google, Microsoft, Nvidia, Amazon Web Services, dan Reflection.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anthropic tidak dilibatkan dalam perjanjian ini setelah perusahaan menolak ketentuan yang memungkinkan militer menggunakan Claude, model AI milik mereka, untuk "semua tujuan yang sah", termasuk senjata otonom dan pengawasan massal.
Pentagon sebelumnya menyebut Anthropic sebagai "risiko rantai pasok", label yang sebelumnya hanya digunakan untuk perusahaan yang terasosiasi dengan musuh asing.
Buat Anthropic, pengecualian ini berdampak besar secara finansial. Undang-Undang One Big Beautiful Bill tahun lalu mengalokasikan dana besar bagi Pentagon untuk digunakan dalam bidang AI dan operasi siber ofensif. Sejak itu, perusahaan-perusahaan teknologi berebut untuk bisa mendapat dana tersebut.
Namun demikian, Gedung Putih kembali membuka pembicaraan dengan Anthropic dalam beberapa pekan terakhir setelah perusahaan tersebut mengumumkan sejumlah terobosan teknologi yang signifikan.
Pentagon menegaskan kesepakatan ini merupakan bagian dari transformasi besar militer AS. Teknologi AI dari perusahaan-perusahaan itu akan digunakan untuk "penggunaan operasional yang sah".
"Perjanjian ini akan menjadikan militer sebagai pasukan tempur yang mengutamakan AI dan akan memperkuat kemampuan prajurit kami untuk mempertahankan keunggulan dalam pengambilan keputusan di seluruh bidang pertempuran," demikian pernyataan Pentagon, melansir CNN, Jumat (1/5).
Pentagon juga menyoroti keberhasilan platform GenAI.mil miliknya, dengan menyebutkan bahwa 1,3 juta personel Departemen Pertahanan telah menggunakan layanan tersebut.
Militer AS mulai memanfaatkan berbagai alat kecerdasan buatan untuk meningkatkan serangannya. Dalam perang dengan Iran, militer AS menggunakan AI untuk melancarkan serangan ke 1.000 target dalam 24 jam pertama.
Menurut Komando Pusat AS, pihaknya menggunakan AI untuk mengelola jumlah data yang sangat besar dengan cepat dalam operasi melawan Iran.
Menurut juru bicara Komando Pusat Kapten Timothy Hawkins, teknologi AI disebut memainkan peran kritis dengan mendukung penyaringan awal data yang masuk, memungkinkan analis manusia untuk fokus pada analisis dan verifikasi tingkat tinggi dalam serangan ke Iran.
Hawkins menegaskan AI hanya berfungsi sebagai alat bantu, bukan pengambil keputusan, yang tetap berada di bawah kendali penuh analis manusia dalam setiap operasi.
(dmi/dmi)
Add
as a preferred source on Google


















































