Jakarta, CNN Indonesia --
Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance mengatakan mungkin terdapat perbedaan antara AS dan Israel soal mencapai tujuan terkait perang dengan Iran.
"Saya tidak tahu apakah ada perbedaan tujuan. Kadang-kadang yang berbeda hanyalah cara mencapai tujuan tersebut," kata Vance dalam wawancara dengan Fox News, dikutip CNN, Sabtu (20/6).
Vance menyebut Israel telah menjadi mitra yang baik dalam banyak hal. Namun soal Iran, Presiden AS Donald Trump terbuka untuk menempuh jalur negosiasi dengan Teheran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Namun Presiden Amerika Serikat telah mengatakan berbeda dengan beberapa unsur dalam pemerintahan Israel, kami akan memberikan kesempatan bagi proses negosiasi ini," imbuhnya.
Pernyataan Vance muncul hanya beberapa hari setelah ia melontarkan kritik keras kepada Israel soal serangan terus menerus ke Lebanon. Dalam konferensi pers di Gedung Putih Vance mengingatkan para pemimpin Israel sadar denga apa yang dihadapi Negeri Zionis itu saat ini.
"Donald J. Trump adalah satu-satunya kepala negara di seluruh dunia yang bersimpati kepada negara Israel saat ini. Dan kebetulan ia adalah pemimpin negara adidaya dunia," kata Vance.
"Jika saya berada di kabinet pemerintahan Israel, saya mungkin tidak akan menyerang satu-satunya sekutu kuat yang masih saya miliki di seluruh dunia," ujarnya.
Vance kemudian berulang kali menekankan Israel perlu berhati-hati agar tidak menjauh dari tujuan-tujuan AS. Ia menyinggung ketergantungan Tel Aviv pada persenjataan buatan Washington.
Dalam wawancara terpisah dengan Financial Times, Trump mengatakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada akhirnya tidak akan memiliki pilihan, selain menerima kesepakatan yang dinegosiasikan AS dengan Iran.
AS dan Iran akhirnya meneken nota kesepahaman (MoU) kesepakatan damai pada Rabu (17/6). Penandatanganan dilakukan oleh Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian secara jarak jauh.
Isi MoU juga diungkap, yang mencakup 14 poin. Sejumlah pihak menilai MoU ini kemenangan bagi Iran karena sebagian besar kesepakatan lebih menguntungkan Teheran.
Menurut seorang pejabat Israel yang bicara kepada CNN, PM Israel Benjamin Netanyahu diam-diam mencoba mengubah kesepakatan AS-Iran yang masih akan dirundingkan dalam waktu 60 hari. Perwakilan AS dan Iran dijadwalkan bertemu untuk membahas lebih lanjut kesepakatan di Swiss akhir pekan ini.
Trump juga pihak Israel untuk menggunakan 'kepala' terkait kesepakatan antara AS dan Iran. Ia mulai gerah dengan lobi-lobi yang dilakukan Israel untuk menyakinkan AS tetap menyerang Iran.
"Terkadang kamu hanya perlu tenang dan menggunakan akal sehatmu," ucap Trump kepada NBC.
Keputusan Trump untuk mencapai kesepakatan dengan Iran tidak lepas dari situasi cadangan minyak. Trump mengatakan cadangan minyak akan habis dalam waktu satu bulan jika jalur pelayaran global Selat Hormuz tak dibuka.
"Cadangan (minyak) kami akan habis dalam waktu empat pekan. Anda tahu, ada cadangan di seluruh dunia, dan kita akan benar-benar kehabisan, dan akan ada saatnya kita tidak bisa mendapatkannya lagi," ujar Trump soal nota kesepahaman (MoU) dengan Iran, dikutip The Hill, Rabu (17/6).
(pta)
Add
as a preferred source on Google

















































