4 Penyebab Psikologis di Balik Kebiasaan Menggigit Kuku

2 hours ago 2

CNN Indonesia

Selasa, 03 Feb 2026 20:15 WIB

Perilaku menggigit kuku ini bisa jadi serius dan mengarah pada gangguan psikologis tertentu, terutama jika sangat sering dan sulit dihentikan. Ilustrasi. Perilaku menggigit kuku ini bisa jadi serius dan mengarah pada gangguan psikologis tertentu, terutama jika sangat sering dan sulit dihentikan. (iStockphoto/AndreyPopov)
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Kebiasaan menggigit-gigit kuku mungkin sekilas tampak sepele dan tidak membahayakan kesehatan.

Namun perilaku menggigit kuku ini bisa jadi serius dan mengarah pada gangguan psikologis tertentu, terutama jika sangat sering dan sulit dihentikan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam istilah medis, kebiasaan menggigiti kuku disebut sebagai onychophagia, yang dikategorikan sebagai perilaku berulang pada tubuh atau body-focused repetitive behavior (BFRB).

Dilansir dari laman Psychology Today, kebiasaan menggigit kuku biasanya dimulai sejak usia anak-anak dan meningkat intensitasnya selama masa remaja, serta berlanjut hingga dewasa.

Onychophagia sering kali mengakibatkan kerusakan yang terlihat pada kuku, kutikula, dan kulit di sekitarnya. Menggigit kuku juga dapat merusak gigi dan menyebabkan masalah pada rahang seiring waktu.


Penyebab psikologis menggigit kuku

Ilustrasi gigit kuku.Ilustrasi. Berikut kondisi mental yang dapat mendasari perilaku menggigit kuku. (iStock/precinbe)

Kebiasaan menggigit kuku yang sulit dihentikan bisa jadi sinyal dari kondisi mental yang perlu diperhatikan. Berikut kondisi yang dapat mendasari perilakunya.

1. Stres

Stres menjadi alasan orang menggigit kukunya. Bagi sebagian orang, perilaku ini dapat memberikan rasa tenang dan lega secara sementara. Menggigit kuku kemudian kemudian menjadi mekanisme coping untuk meredakan stres.


2. Gangguan kecemasan

Menggigit kuku juga terjadi ketika seseorang memiliki gangguan kecemasan. Sama dengan stres, saat seseorang merasa gelisah dan cemas, tubuh akan mencari cara untuk menenangkan diri.

Namun pada orang dengan gangguan kecemasan, kebiasaan menggigit kuku biasanya lebih sulit dihentikan. Jika sudah demikian, kebiasaan menggigit kuku menjadi sinyal bahwa gangguan kecemasan atau psikologis lainnya tidak mendapatkan penanganan dengan baik.


3. Bosan

Menggigit kuku juga bisa muncul saat seseorang merasa bosan atau sedang tidak banyak melakukan aktivitas. Kebiasaan ini kemudian muncul sebagai cara otak untuk mencari rangsangan.

Secara psikologis, orang yang terbiasa melakukan ini tangan dan mulutnya akan bergerak tanpa sadar untuk membuat otaknya kembali merasa "sibuk".


4. Kecenderungan perfeksionisme

Dikutip dari laman Nailknowledge, berapa studi menyebutkan bahwa kebiasaan menggigit kuku juga kerap dikaitkan dengan perfeksionisme.

Orang dengan kecenderungan ini memiliki dorongan untuk 'merapikan' kuku yang dirasa tidak rata, kasar, atau mengganggu. Namun tanpa disadari, ini menjadi kebiasaan yang dilakukan berulang.


Cara menghentikan kebiasaan menggigit kuku

Dikutip dari laman WebMD, berikut cara yang bisa dilakukan untuk menghentikan kebiasaan menggigit kuku.

1. Kuku harus selalu pendek

Pastikan Anda memotong kuku sampai pendek sampai tidak ada cukup kuku untuk digigit.

2. Pakai kuteks

Memakai kuteks bisa membantu menghentikan kebiasaan menggigit kuku. Ketika kuku dicat, kamu mungkin akan berpikir dua kali untuk menggigitnya karena takut akan merusaknya. Selain itu, rasa cat yang tidak enak di mulut akan menghentikan keinginan menggigiti kuku.


3. Alihkan perhatian

Menyibukkan tangan dengan mulut bisa menjadi cara efektif untuk menghentikan kebiasaan menggigit kuku. Anda bisa mengunyah permen karet, bermain bola karet antistres atau fidget toys untuk mengalihkan perhatian.

Demikian penyebab psikologis di balik kebiasaan menggigit kuku.

Menggigit kuku bukan hanya kebiasaan yang sepele, sebab bagi sebagian orang ini bisa menjadi tanda bahwa mereka sedang stres, cemas, atau mengalami gangguan psikologis tertentu.

(fef)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |