CNN Indonesia
Sabtu, 14 Feb 2026 20:10 WIB
Ilustrasi. Ada beberapa hal di tempat kerja yang jadi ketakutan Gen Z, terdengar sepele tapi cukup menguras emosi. (Getty Images/iStockphoto/RyanKing999)
Jakarta, CNN Indonesia --
Apakah kamu merasa sudah bekerja keras, tetapi tetap cemas memikirkan masa depan? Takut salah langkah, tertinggal dari rekan kerja, atau merasa tidak cukup meski sudah berusaha maksimal? Jika iya, tenang saja, kamu tidak sendirian.
Fenomena career anxiety kini nyata dirasakan banyak Gen Z. Dunia kerja berjalan cepat, penuh tuntutan, dan sering kali terasa tidak pasti. Tak heran jika generasi yang baru menapaki karier ini kerap dihantui kecemasan, baik yang besar maupun yang terdengar sepele, tetapi tetap menguras energi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa itu career anxiety?
Secara sederhana, career anxiety adalah kecemasan berlebihan tentang masa depan karier. Ini bukan sekadar rasa gugup sebelum presentasi, melainkan overthinking yang terus-menerus.
Kamu mungkin bertanya-tanya apakah keputusanmu sudah tepat, apakah kemampuanmu cukup, atau apakah kamu akan tertinggal.
Jika dibiarkan, kondisi ini bisa mengganggu fokus dan produktivitas sehari-hari.
Tapi, kenapa Gen Z rentan terkena career anxiety ini? Melansir hasil survei yang dilakukan One Indonesia, ada beberapa faktor utama kenapa Gen Z mudah terkena career anxiety, berikut ulasannya:
• Tekanan media sosial. Pencapaian orang lain terlihat instan dan gemilang.
• Kondisi ekonomi yang tidak menentu. Ada dorongan untuk segera mapan.
• Budaya kerja 'always-on'. Batas antara kerja dan hidup pribadi makin kabur.
• Kecemasan sosial di kantor. Interaksi profesional terasa melelahkan.
Survei global dari Deloitte menunjukkan sekitar 40 persen Gen Z merasa cemas hampir setiap hari, dipicu jam kerja panjang dan budaya kerja tidak sehat.
Senada, riset MetLife yang dimuat Forbes mencatat 46 persen pekerja Gen Z melaporkan tingkat stres tinggi, lebih besar dibanding generasi lain.
Namun, di balik data tersebut, ada ketakutan-ketakutan khas yang sering kali terasa sangat personal. Berikut beberapa list ketakutan Gen Z saat mulai bekerja:
1. 'Dimention' di grup kantor
Pesan di grup kerja hanya dibaca tanpa respons. Takut dianggap tidak kompeten, tidak responsif, atau bahkan tidak disukai. Padahal, bisa jadi rekan kerja memang sedang sibuk.
2. Nggak bisa 'tenggo'
Istilah 'tenggo' (teng jam langsung go) sering jadi dilema. Ingin pulang tepat waktu, tetapi takut dinilai kurang berdedikasi. Budaya kerja yang belum sepenuhnya menghargai batas waktu membuat banyak Gen Z serba salah.
3. Ditinggal bestie resign
Teman sekantor yang jadi tempat curhat tiba-tiba resign. Rasanya seperti kehilangan sistem pendukung di tengah tekanan kerja. Adaptasi kembali terasa berat.
4. Hujan pas jam pulang kerja
Terdengar sepele, tetapi setelah hari panjang dan melelahkan, hujan deras saat jam pulang bisa terasa seperti 'ujian tambahan'. Apalagi jika harus naik transportasi umum.
5. WiFi lemot
Di era kerja digital, koneksi internet bukan sekadar fasilitas, melainkan kebutuhan utama. WiFi yang lambat bisa memicu panik, takut dianggap tidak profesional atau menghambat tim.
Ketakutan-ketakutan ini mungkin terlihat kecil. Namun, jika menumpuk, dampaknya bisa besar pada kesehatan mental. Kuncinya adalah menyadari bahwa rasa cemas itu wajar, terutama di fase awal karier.
Alih-alih membandingkan diri dengan orang lain, fokuslah pada progres pribadi. Bangun batas kerja yang sehat, jaga komunikasi, dan jangan ragu mencari dukungan jika diperlukan.
Memulai karier memang penuh tantangan. Tetapi ingat, setiap orang punya ritme dan jalannya masing-masing. Kamu tidak tertinggal, kamu sedang bertumbuh.
(tis/tis)


















































