BRIN Beber Mitigasi Darurat Atasi Pencemaran Kimia di Sungai Cisadane

2 hours ago 4
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Peneliti BRIN membeberkan strategi mitigasi darurat atas pencemaran aliran Sungai Cisadane dan anaknya yang berasal dari residu kimia gudang pestisida yang terbakar di Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, awal pekan ini.

Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com. dampak pencemaran bahan kimia itu diduga terbawa aliran sungai hingga ke wilayah pesisir Tanjung Pasir, Kecamatan Teluknaga sampai Dadap, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang.

Mengutip dari laman BRIN, dugaan tumpahan sekitar 2,5 ton pestisida pascakebakaran kawasan gudang di Taman Tekno, Tangsel, menjadi alarm serius bagi lingkungan dan kesehatan publik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dampak pencemaran dilaporkan meluas hingga radius 22,5 kilometer, memengaruhi wilayah Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, hingga Kota Tangerang Selatan.

Peneliti Ahli Utama Bidang Teknik Lingkungan dari Pusat Riset Limnologi dan Sumberdaya Air - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Ignasius DA Sutapa menegaskan ini menjadi sebuah krisis ekologis yang membutuhkan respons cepat dan terkoordinasi.

Menurut Ignas, Sungai Cisadane merupakan arteri vital yang menyuplai kebutuhan air baku, irigasi, serta menopang ekosistem perairan di wilayah padat penduduk dan industri.

"Selama ini, sungai tersebut memang disinyalir menghadapi persoalan pencemaran kronis dari limbah domestik, industri, dan pertanian. Namun, insiden kali ini bersifat akut karena melibatkan volume besar zat beracun yang masuk secara tiba-tiba ke badan air," ujar Ignas, Jumat (13/2) dikutip dari laman BRIN.

Ia menjelaskan, penyebaran pestisida hingga 22,5 kilometer terjadi akibat mekanisme hidrodinamika sungai.

Ketika beban pencemaran dalam jumlah besar masuk secara mendadak, kapasitas alami sungai untuk melakukan dilusi dan asimilasi terlampaui. Kontaminan kemudian terbawa arus melalui proses dispersi dan difusi mengikuti debit aliran sungai.

Menurut Ignas, karakteristik kimia pestisida turut mempercepat penyebaran. Jika zat tersebut memiliki kelarutan tinggi dalam air dan relatif stabil dalam lingkungan perairan, konsentrasinya dapat bertahan cukup lama untuk menyebar secara homogen sepanjang koridor sungai.

"Kondisi ini memungkinkan wilayah hilir, termasuk lokasi pengambilan air baku Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), ikut terdampak," lanjutnya.

Kematian massal biota air

Ignas mengatakan dampak ekologis dari konsentrasi pestisida yang tinggi dapat menyebabkan kematian massal biota air seperti ikan, zooplankton, dan fitoplankton. Insiden ikan mati mendadak kerap menjadi indikator paling jelas adanya pencemaran toksik di perairan.

Selain toksisitas akut, Ignas menyoroti potensi bioakumulasi dan biomagnifikasi.

Residu pestisida atau metabolitnya dapat terakumulasi dalam jaringan organisme air, lalu berpindah ke predator tingkat lebih tinggi, termasuk manusia yang mengonsumsi ikan dari sungai tersebut. Menurutnya risiko tersebut membuat pencemaran tidak hanya berdampak jangka pendek, tetapi juga berpotensi menimbulkan efek kesehatan kronis bagi manusia.

Kontaminasi juga dapat mencapai sedimen dasar sungai dan menjadi sumber pelepasan racun sekunder dalam jangka waktu lebih lama. Artinya, meskipun air permukaan tampak kembali jernih, ancaman toksik masih dapat tersimpan di lapisan sedimen dan terlepas kembali ke kolom air dalam kondisi tertentu.

Kesehatan publik

Dari sisi kesehatan publik, paparan pestisida bisa terjadi melalui kontak langsung seperti mandi dan mencuci, maupun secara tidak langsung melalui konsumsi air baku atau ikan yang telah tercemar.

Ignas menjelaskan pada jenis pestisida tertentu, terutama yang bersifat neurotoksik, dapat menyebabkan gejala akut seperti mual, pusing, gangguan saraf, hingga kematian tergantung dosis paparan.

"Dalam jangka panjang, paparan kronis berpotensi memicu gangguan endokrin, kerusakan organ, bahkan risiko karsinogenik," ungkapnya.

Mitigasi

Untuk mitigasi jangka pendek, ia merekomendasikan penutupan sementara intake air baku PDAM di zona terdampak, peningkatan pemantauan kualitas air secara real-time, serta edukasi cepat kepada masyarakat agar tidak menggunakan air sungai untuk keperluan apa pun sampai dinyatakan aman.

Upaya netralisasi atau remediasi in-situ juga perlu dilakukan jika sumber pencemaran masih teridentifikasi.

Selain itu, Ignas menekankan pentingnya strategi jangka panjang, mulai dari penguatan pengawasan dan penegakan hukum terhadap pelaku pencemaran B3, pembangunan sistem peringatan dini berbasis sensor kualitas air online, hingga diversifikasi sumber air baku untuk meningkatkan ketahanan air saat terjadi krisis.

Restorasi ekosistem sungai melalui rehabilitasi zona riparian juga menjadi langkah krusial untuk meningkatkan kapasitas alami sungai dalam menyaring polutan.

"Kepada masyarakat, kami mengimbau agar tidak panik, tetapi tetap waspada dan mengikuti instruksi resmi pemerintah dan PDAM. Jangan menggunakan air sungai untuk memasak, minum, mencuci, atau mandi sampai ada pernyataan bahwa air telah aman. Hindari konsumsi ikan dari wilayah terdampak selama masa krisis," terang Ignas. 

Sebelumnya, Sekretaris Kesatuan Perempuan Pesisir Indonesia (KPPI) Kabupaten Tangerang, Rosita mengatakan, cemaran kimia diduga dari pencemaran pascakebakaran gudang kimia di Tangsel awal pekan ini telah berdampak kepada hewan laut sejak Kamis (12/2) dan masih berlangsung selama beberapa hari setelahnya.

Menurutnya, tambak kerang dan udang milik nelayan yang berada dekat garis pantai menjadi area paling terdampak. Akibatnya, banyak budidaya laut yang terpaksa dibuang karena diduga terkontaminasi bahan kimia.

"Kalau di pinggir-pinggir itu tambak nelayan, satu nelayan itu hampir dua bak lebih tangkapannya yang terbuang," ujar Rosita, Sabtu (14/2).

Bukan hanya berdampak pada tambak kerang dan udang, cemaran kimia itu juga diindikasi meracuni ikan laut yang berada di sekitar bibir pantai.

Rosita menyebut kondisi air laut juga tampak mengalami perubahan seperti berminyak dan bercampur partikel yang menempel. Akibat kondisi itu, banyak nelayan yang memilih tak melaut lantaran khawatir hasil tangkapannya itu tercemar bahan kimia.

"Kita takutnya karena tidak layak konsumsi ya nanti kita disalahkan masyarakat. Sudah tahu ikan kena limbah kenapa diambil," jelasnya.

Saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Tangerang, Rudi Hartono mengimbau agar masyarakat pesisir untuk tidak mengonsumsi dan menjual ikan yang ditemukan mati di sekitaran pantai.

"Kami mengimbau kepada nelayan kita dan tentunya jangan sampai yang dekat-dekat pinggir pantai untuk mencari ikannya," kata Rudi.

Rudi menuturkan, saat ini pihaknya sedang menunggu hasil laboratorium pengujian sampel air Sungai Cisadane yang dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tangerang.

Di samping itu, Rudi menyebut, pihaknya telah berkoordinasi dengan Balai Penguji Kesehatan Ikan dan Lingkungan pada Kementerian Kelautan dan Perikanan.

(kid/kid)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |