CNN Indonesia
Kamis, 19 Feb 2026 09:30 WIB
Ilustrasi. Meski tubuh perlu beradaptasi, puasa ternyata bisa membawa dampak positif terhadap kesehatan. (istockphoto/franckreporter)
Jakarta, CNN Indonesia --
Puasa di bulan Ramadhan tidak hanya ibadah, tetapi juga bisa memberikan dampak positif pada kesehatan. Puasa membuat tubuh beradaptasi dengan kebiasaan baru.
Anda perlu tahu apa yang dapat terjadi pada tubuh saat puasa 12 jam. Apalagi, di Indonesia durasi puasa bisa mencapai 13 hingga 14 jam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa yang terjadi pada tubuh saat puasa 12 jam?
Puasa selama 12 jam atau lebih membuat tubuh masuk ke fase adaptasi metabolik yang berbeda dari biasanya. Saat tidak ada makanan dan minuman yang masuk dalam rentang waktu panjang seperti dari fajar hingga petang, tubuh tidak langsung lemas, tetapi justru mulai mengatur ulang sumber energinya.
Sistem hormon, kadar gula darah, hingga cara tubuh membakar lemak mengalami perubahan bertahap. Pada jam-jam awal, tubuh masih berada dalam fase pascamakan.
Namun seiring waktu berjalan dan cadangan energi dari makanan terakhir mulai habis, tubuh beralih ke sumber energi alternatif. Proses ini melibatkan penurunan insulin, penggunaan cadangan gula di hati, hingga pembakaran lemak.
Pada saat yang sama, organ pencernaan mendapat waktu istirahat dan beberapa mekanisme perbaikan alami di tingkat sel mulai aktif. Melansir NDTV, berikut ini yang terjadi pada tubuh saat menjalani puasa 12 jam atau lebih:
1. Kadar gula darah mulai stabil
Beberapa jam setelah makan terakhir, tubuh akan menggunakan cadangan glukosa (gula) sebagai sumber energi. Ketika tidak ada asupan baru, kadar insulin perlahan menurun.
Penurunan insulin ini membantu tubuh menjadi lebih sensitif terhadap hormon tersebut. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat membantu menjaga kestabilan gula darah dan menurunkan risiko resistansi insulin.
2. Penurunan berat badan
Metode puasa 12 jam secara alami menghilangkan kebiasaan makan larut malam. Dengan membatasi waktu makan, asupan kalori harian bisa berkurang tanpa perlu aturan diet yang terlalu ketat.
Pengurangan kalori secara bertahap ini dapat membantu penurunan berat badan yang lebih stabil dan berkelanjutan. Karena metodenya tidak ekstrem, banyak orang merasa lebih mudah mempertahankannya dalam jangka panjang.
3. Proses perbaikan sel mulai aktif
Puasa memicu proses alami di dalam tubuh seperti autophagy, yaitu ketika sel membersihkan dan mendaur ulang komponen yang rusak. Proses ini penting untuk menjaga fungsi sel tetap optimal.
Dengan memberi jeda makan selama 12 jam, tubuh mulai mendapatkan sinyal untuk menjalankan proses pemeliharaan ini. Perbaikan sel ini juga dapat menurunkan risiko beberapa penyakit kronis.
4. Sistem pencernaan beristirahat
Foto: iStockphoto/LightFieldStudios
Ilustrasi sistem pencernaan.
Memberi jeda 12 jam tanpa asupan memungkinkan migrating motor complex (MMC) bekerja optimal. MMC adalah gelombang aktivitas pencernaan yang membantu membersihkan sisa makanan dan bakteri dari usus halus.
Proses ini membantu mengurangi kembung, memperbaiki kenyamanan pencernaan, dan menjaga kesehatan usus.
5. Kualitas tidur berpotensi meningkat
Jika puasa 12 jam dilakukan dengan makan malam lebih awal, tubuh tidak lagi sibuk mencerna makanan saat waktu tidur. Energi tubuh bisa lebih difokuskan pada proses pemulihan.
Tidur terasa lebih nyenyak dan detak jantung istirahat yang lebih stabil saat tidak makan terlalu dekat dengan waktu tidur.
6. Peradangan berkurang
Sejumlah penelitian menunjukkan, pembatasan waktu makan dapat membantu menurunkan peradangan dalam tubuh. Peradangan kronis diketahui berkaitan dengan berbagai penyakit seperti tekanan darah, kadar kolesterol, dan penanda inflamasi.
Dengan memberi waktu istirahat pada sistem metabolisme, tubuh memiliki kesempatan untuk menyeimbangkan kembali respons inflamasi.
Meski demikian, hasil pada setiap orang bisa berbeda tergantung kondisi kesehatan, pola makan, dan gaya hidup. Penting untuk tetap memperhatikan kualitas makanan dan memastikan asupan gizi tetap seimbang.
Puasa selama 12 jam bukan sekadar menahan lapar. Ini adalah cara sederhana memberi tubuh waktu untuk mengatur ulang metabolisme, memperbaiki sel, dan menjaga keseimbangan energi secara alami.
(nga/rti)

















































