CNN Indonesia
Kamis, 04 Jun 2026 19:00 WIB
Sutradara Yeon Sang-ho blak-blakan memangkas sebagian besar latar belakang kisah karakter dari naskah awal film zombie Colony. (WOWPOINT via KOBIZ)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sutradara Yeon Sang-ho blak-blakan telah memangkas sebagian besar latar belakang kisah karakter dari naskah awal film zombie terbarunya, Colony.
Langkah itu ia ambil bersama pihak produser demi menjaga ritme ketegangan film tetap bergerak cepat dan intens bagi para penonton yang mencari sensasi ketegangan memacu adrenalin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Korea JoongAng Daily beberapa waktu lalu memberitakan bahwa Yeon Sang-ho menyiapkan skenario awal Colony sebagai narasi yang sangat padat, termasuk untuk setiap karakternya.
"Draf pertama dari skenario Colony setebal 168 halaman [...] yang akan membutuhkan waktu 3,5 jam untuk menampung semuanya," ungkap Yeon Sang-ho yang juga bertindak sebagai penulis pendamping naskah tersebut.
Menyadari durasi tersebut terlalu panjang untuk sebuah film thriller, ia memilih mengorbankan kedalaman riwayat masa lalu tokoh-tokohnya demi momentum.
"Saya tahu Colony harus bergerak cepat. Saya membentuk film ini di sekitar momentum tersebut dan memangkas naskahnya menjadi sekitar 100 halaman," tuturnya.
"Saya ingin penonton merasakan sensasi mendebarkan seperti ikut ditarik ke dalamnya."
Akibat pemotongan besar-besaran ini, beberapa kisah krusial harus rela dieliminasi dari hasil akhir.
Salah satu potongan adegan yang signifikan adalah latar belakang mendalam dari para penyintas dan sosok penjahat utama, seperti momen masa sekolah menengah Yeong-cheol (Koo Kyo-hwan) saat pergi menemui Se-jeong (Jun Ji-hyun).
Yeon Sang-ho menyadari keputusan itu tidak menyisakan ruang untuk menggali masa lalu setiap karakter secara mendalam. Sebagai gantinya, ia memberikan dinamika hubungan yang unik dan tidak biasa di antara para penyintas.
Ia mencontohkan kehadiran mantan suami Se-jeong yang diperankan oleh Go Soo, hingga ketegangan antara seorang perundung sekolah dan mantan korbannya.
"Saya pikir penonton akan dapat membayangkan sendiri kisah mereka secara alami," jelas Yeon Sang-ho.
Colony menceritakan mengikuti sekelompok penyintas, termasuk seorang profesor bioteknologi bernama Se-jeong, yang terjebak dalam gedung yang diblokade total akibat wabah zombie yang tiba-tiba merebak.
Berbeda dari proyek bertema serupa, kawanan zombie di film ini berevolusi menjadi predator yang lebih cerdas, mampu berkomunikasi, dan berpikir secara kolektif melalui sebuah jaringan terkoneksi.
Jika Train to Busan menitikberatkan pada drama kemanusiaan antara hubungan ayah dan anak, Colony justru dibangun dengan elemen pelarian ekstrem menyerupai permainan escape room.
Konsep itu menciptakan kontras tajam di mana pihak zombie terus berevolusi, sementara kelompok manusia mengandalkan komunikasi untuk bertahan hidup.
Bagi Yeon Sang-ho, yang sebelumnya sukses dengan kisah zombie dalam Train to Busan, prekuel animasi Seoul Station (2016), serta Peninsula (2020), ruang inovasi untuk tema ini masih terbuka lebar.
"Saya seperti Mun Ik-jeom-nya film zombie Korea," kelakarnya, merujuk pada sosok cendekiawan era Dinasti Goryeo yang pertama kali membawa benih kapas ke Korea.
Meski film ini berakhir dengan konklusi yang memicu tanda tanya penonton akan adanya sekuel, Yeon Sang-ho mengaku telah menyiapkan strategi ekspansi multidimensi di luar layar lebar.
Ia menyiapkan buku pendamping yang mengupas tuntas latar dunia dan karakter Colony yang saat ini sedang digarap, bersamaan dengan proyek adaptasi gim.
"Ada sesuatu yang sudah lama saya impikan. Konten dalam film tidak lagi terbatas pada film saja. Di Jepang, misalnya, komik diadaptasi menjadi serial animasi. [Cerita-cerita tersebut] diperluas dengan cara yang dapat dinikmati melalui berbagai media," cetusnya.
Film Colony tayang 3 Juni di bioskop Indonesia.
(chri)
Add
as a preferred source on Google


















































