Anemia pada Anak Masih Tinggi, Ini Cara Mencegahnya Sejak Dini

10 hours ago 4

tis | CNN Indonesia

Rabu, 15 Jul 2026 18:11 WIB

Ilustrasi pengecekan tekanan darah Ilustrasi. Anemia defisiensi besi masih jadi salah satu penyakit yang harus diwaspadai, karena bisa menyerang anak-anak. (iStock/GlobalStock)

Jakarta, CNN Indonesia --

Anemia defisiensi besi masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang kerap luput dari perhatian. Padahal, kondisi akibat kekurangan zat besi ini dapat berdampak besar terhadap tumbuh kembang anak, mulai dari kesehatan fisik, perkembangan otak, hingga kemampuan belajar.

Masalah ini bahkan sudah dapat terjadi sejak periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Karena itu, pencegahan sejak dini dinilai menjadi langkah penting untuk memastikan anak tumbuh sehat dan mencapai potensi optimalnya.

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sebanyak 27,7 persen ibu hamil mengalami anemia. Sementara itu, kondisi serupa juga dialami oleh 23,8 persen anak balita di Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pakar Gizi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dian Novita Chandra mengatakan sebagian besar kasus anemia di Indonesia disebabkan oleh kurangnya asupan zat besi dalam pola makan sehari-hari.

Menurutnya, pemenuhan zat besi sebaiknya dilakukan melalui konsumsi makanan bergizi seimbang, terutama yang berasal dari protein hewani seperti daging, ikan, dan hati. Selain itu, vitamin C juga berperan penting karena membantu meningkatkan penyerapan zat besi di dalam tubuh.

"Untuk memenuhi asupan zat besi yang optimal, dapat dilakukan dengan memberikan asupan gizi seimbang yang banyak bersumber dari protein hewani yang kaya zat besi. Selain itu, untuk memaksimalkan penyerapan zat besi dalam tubuh, juga dibutuhkan vitamin C," ujar Dian dalam keterangannya.

Ia menambahkan, orang tua juga dapat mempertimbangkan makanan atau minuman yang telah difortifikasi untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi harian anak.

"Dalam memenuhi kebutuhan nutrisi harian anak, bisa juga dipertimbangkan untuk melengkapinya dengan sumber nutrisi yang difortifikasi, seperti susu pertumbuhan. Konsumsi zat besi yang disertai vitamin C dapat meningkatkan penyerapan zat besi hingga dua kali lipat," katanya.

Selain memperhatikan asupan gizi, Dian menilai skrining faktor risiko kekurangan zat besi perlu dilakukan secara rutin, bahkan sejak masa kehamilan. Langkah ini dapat membantu mendeteksi risiko lebih awal sehingga penanganan bisa dilakukan sebelum anemia berkembang menjadi lebih berat.

Senada, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi mengatakan persoalan anemia pada ibu hamil dan anak masih menjadi tantangan yang perlu ditangani bersama.

"Hasil survei menunjukkan ibu hamil dan anak di Indonesia masih banyak mengalami masalah kesehatan seperti anemia. Masalah ini masih terjadi karena kurangnya pemahaman tentang makanan bergizi yang dibutuhkan anak. Oleh karena itu, edukasi makanan bergizi harus menjadi perhatian seluruh multipihak untuk terus bersama-sama membangun kesadaran masyarakat," ujarnya.

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dunia usaha, dan masyarakat menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya gizi sejak awal kehidupan. Dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional 2026, Danone Indonesia turut memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk meningkatkan edukasi mengenai anemia defisiensi besi, sekaligus mendorong skrining risiko sejak dini.

Healthcare Nutrition Director Danone Indonesia Vera Saw mengatakan defisiensi zat besi masih menjadi persoalan yang dapat menghambat tumbuh kembang generasi muda Indonesia.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Danone Indonesia menyebut telah mendukung lebih dari 1,25 juta skrining melalui aplikasi digital eNutri sejak 2025 dan menargetkan penambahan 14 juta skrining hingga 2030. Perusahaan juga melanjutkan program edukasi gizi bersama tenaga kesehatan dan komunitas, termasuk kegiatan skrining risiko anemia bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan anak di sejumlah wilayah.

"Upaya membantu mencegah anemia defisiensi besi memerlukan peningkatan kesadaran yang berkelanjutan, edukasi yang aplikatif, serta identifikasi dini terhadap faktor risiko. Melalui kolaborasi dengan tenaga kesehatan dan mitra komunitas, kami berharap semakin banyak anak memperoleh asupan nutrisi yang dibutuhkan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal," kata Vera.

(tis/tis)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |