CNN Indonesia
Rabu, 04 Feb 2026 09:30 WIB
Ilustrasi. Orang-orang avoidant cenderung menghindari kelekatan emosional. (iStockphoto/Mixmike)
Jakarta, CNN Indonesia --
Dalam sebuah hubungan, kedekatan emosional kerap dianggap sebagai fondasi utama untuk membangun rasa aman, kepercayaan, dan komitmen jangka panjang. Namun, tidak semua orang merasa nyaman dengan kedekatan tersebut.
Ada sebagian individu yang justru menarik diri ketika hubungan mulai terasa dekat. Kondisi ini dikenal dengan gaya keterikatan avoidant.
Bagi sebagian orang, semakin dekat sebuah hubungan, semakin besar pula dorongan untuk menjaga jarak. Tanpa disadari, pola ini membuat hubungan terasa datar, berjarak, bahkan sulit berkembang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk memahami dinamika hubungan secara lebih sehat, penting mengetahui apa itu avoidant dan bagaimana pengaruhnya dalam hubungan.
Dikutip dari Cleveland Clinic, WebMD, dan berbagai sumber lainnya, berikut penjelasan mengenai avoidant, ciri-cirinya, serta cara mengatasinya dalam hubungan.
Apa itu avoidant?
Avoidant attachment atau gaya keterikatan menghindar adalah kondisi ketika seseorang cenderung menghindari kedekatan emosional dan menjaga jarak dalam hubungan interpersonal, terutama hubungan romantis.
Pola ini umumnya terbentuk sejak masa kanak-kanak, akibat pengalaman dengan lingkungan yang kurang responsif secara emosional.
Sejak kecil, individu dengan gaya avoidant terbiasa mengandalkan diri sendiri untuk memenuhi kebutuhan emosinya. Mereka belajar bahwa mengekspresikan perasaan atau mencari dukungan tidak selalu mendapat respons yang aman atau menenangkan.
Akibatnya, mereka mengembangkan mekanisme bertahan hidup dengan menekan emosi dan membangun kemandirian yang berlebihan.
Dalam hubungan dewasa, pola ini terlihat dari rasa tidak nyaman terhadap keintiman, enggan bergantung pada pasangan, serta kesulitan membuka diri secara emosional.
Meski tampak mandiri dan tenang, individu avoidant kerap menyimpan ketakutan akan penolakan atau kehilangan kendali dalam hubungan.
Ciri-ciri avoidant dalam hubungan
1. Tidak nyaman dengan kedekatan emosional
Individu avoidant sering merasa cemas atau tertekan ketika hubungan menuntut kedekatan emosional yang lebih dalam. Kedekatan bukan dipersepsikan sebagai kehangatan, melainkan ancaman terhadap kendali diri.
Mereka khawatir terlalu dekat akan membuat ketergantungan emosional, sesuatu yang sejak kecil dipelajari untuk dihindari. Karena itu, batas emosional yang tegas kerap dijaga demi rasa aman.
2. Menjaga jarak saat hubungan mulai serius
Saat hubungan memasuki tahap komitmen, individu avoidant bisa berubah menjadi lebih dingin, jarang menghubungi pasangan, atau tampak sibuk mendadak.
Sikap ini bukan selalu tanda hilangnya ketertarikan, melainkan respons defensif terhadap ketakutan akan keterikatan yang terlalu dalam.
3. Sulit mengekspresikan perasaan
Orang dengan gaya avoidant terbiasa memendam emosi dan jarang mengungkapkan perasaan secara verbal. Mereka mungkin merasa tidak aman atau tidak terbiasa mengekspresikan emosi dengan sehat.
Saat terluka, mereka cenderung memilih diam dan memproses sendiri, yang kerap membuat pasangan merasa diabaikan secara emosional.
4. Menghindari konflik emosional
Konflik yang melibatkan emosi sering dihindari oleh individu avoidant. Mereka bisa menarik diri, mengalihkan topik, atau memilih diam demi menghindari konfrontasi.
Bagi mereka, konflik emosional terasa melelahkan dan mengancam stabilitas diri, bukan sebagai peluang memperbaiki hubungan.
5. Sangat mengandalkan diri sendiri
Kemandirian berlebihan menjadi ciri khas gaya avoidant. Mereka terbiasa menyelesaikan masalah sendiri dan jarang meminta bantuan, bahkan kepada pasangan.
Ketergantungan emosional sering dianggap sebagai kelemahan, sehingga pasangan bisa merasa tidak dibutuhkan atau tidak dipercaya.
6. Merasa tertekan oleh ekspektasi pasangan
Permintaan akan perhatian, kejelasan hubungan, atau komitmen emosional sering dipersepsikan sebagai tekanan. Ekspektasi yang sebenarnya wajar justru dianggap membatasi kebebasan pribadi.
Respons yang muncul biasanya berupa penarikan diri, penundaan pembicaraan penting, atau sikap defensif.
7. Terlihat tenang, tetapi emosional tertutup
Individu avoidant kerap tampak rasional dan tenang. Namun, ketenangan ini sering merupakan hasil dari emosi yang ditekan.
Emosi yang tidak diproses dengan sehat dapat menumpuk dan muncul sebagai stres, kelelahan emosional, atau jarak yang semakin lebar dalam hubungan.
Cara mengatasi avoidant attachment dalam hubungan
1. Menyadari pola hubungan yang dimiliki
2. Belajar mengenali emosi diri
3. Melatih keterbukaan secara bertahap
4. Menunda dorongan untuk menghindar
5. Membangun komunikasi yang lebih jujur
6. Mengelola stres dan luka emosional masa lalu
7. Bersabar dan konsisten dengan proses perubahan
Dengan mengenali apa itu avoidant dan ciri-cirinya, membangun hubungan yang lebih sehat dan bermakna bukanlah hal mustahil. Kesadaran, keterbukaan, serta dukungan yang tepat dapat menjadi jalan menuju keterikatan emosional yang lebih aman dan dewasa.
(gas/tis)

















































