AS Cabut Izin Ekspor Minyak Iran Buntut Serangan di Selat Hormuz

4 hours ago 6

Jakarta, CNN Indonesia --

Amerika Serikat (AS) kembali menjatuhkan sanksi terhadap sektor energi Iran dengan mencabut izin ekspor minyak.

Langkah tegas ini diambil sebagai respons atas rentetan serangan terhadap kapal tanker minyak dan gas alam cair (LNG) di Selat Hormuz yang diduga kuat melibatkan Teheran.

Mengutip Reuters, Departemen Keuangan AS memutuskan untuk memangkas periode pelonggaran sanksi yang awalnya berlaku hingga 21 Agustus menjadi hanya sampai 17 Juli mendatang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keputusan mendadak ini langsung memicu gejolak di pasar global yang menyebabkan harga minyak dunia melonjak lebih dari 5 persen.

Seorang pejabat AS menegaskan bahwa serangan terhadap kapal-kapal komersial di jalur laut internasional "sama sekali tidak dapat diterima" dan akan membawa konsekuensi serius bagi Teheran.

Kendati demikian, ia menyebut para negosiator tetap mencoba bersikap profesional.

"Para negosiator terus bekerja dengan itikad baik untuk mencapai kesepakatan akhir dengan Iran meskipun terjadi eskalasi terbaru," ujarnya.

Berdasarkan laporan United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), setidaknya ada tiga kapal tanker yang melaporkan terkena proyektil tak dikenal di dalam dan sekitar Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir.

Meski belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab dan pemerintah Iran masih bungkam, intelijen AS menduga kuat Iran adalah pelaku di balik serangan tersebut.

Seorang pejabat AS lainnya yang berbicara secara anonim menyatakan bahwa indikasi awal menunjukkan Iran telah menembaki ketiga kapal komersial tersebut.

Padahal, pelonggaran sanksi yang diberikan bulan lalu merupakan bagian dari kesepakatan diplomatik yang rapuh antara Washington dan Teheran.

Insiden ini membuat hubungan kedua negara kembali berada di ambang tanduk dan berpotensi menggagalkan negosiasi yang sedang berjalan.

Para analis memperingatkan bahwa gangguan yang berkepanjangan di kawasan ini akan melambungkan harga energi dunia. Pada akhirnya akan membebani konsumen dan pemerintah yang tengah berjuang melawan inflasi biaya bahan bakar.

Di sisi lain, pencabutan izin ekspor ini dipastikan bakal memukul balik perekonomian Iran yang sudah terseok-seok akibat sanksi bertahun-tahun.

Selama ini, ekspor minyak menjadi sumber pendapatan krusial bagi Teheran untuk menghasilkan miliaran dolar AS demi mendanai pengeluaran pemerintah dan menopang ekonomi.

Presiden Rapidan Energy Group Bob McNally menilai situasi ini menjadi sinyal kuat bagi pasar bahwa stabilitas geopolitik yang sempat diupayakan kedua negara tidak sekuat yang dikira.

Ia menambahkan bahwa pasar minyak perlu menyesuaikan harga dengan mempertimbangkan risiko.

"Perkembangan tersebut menandakan bahwa gencatan senjata tidak sekuat dan sekuat yang diasumsikan pasar minyak," kata McNally.

[Gambas:Video CNN]

(fln/sfr)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |