CNN Indonesia
Senin, 03 Agu 2026 07:45 WIB
Suasana di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim)
Jakarta, CNN Indonesia --
Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) di Tangerang, Banten, resmi menggeser Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) Malaysia sebagai bandara tersibuk kedua di kawasan Asia Tenggara (Asean) pada Juli 2026.
Laporan terbaru dari lembaga analisis penerbangan asal Inggris, Official Airline Guide (OAG), mencatat Bandara Soekarno-Hatta membukukan kapasitas tempat duduk mencapai 3,3 juta kursi. Angka ini mencatatkan kenaikan sebesar 3,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pencapaian Soekarno-Hatta ini menempatkannya tepat di bawah Bandara Changi Singapura yang masih bertengger di posisi puncak kawasan dengan kapasitas 3,56 juta kursi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, Bandara Internasional Kuala Lumpur yang sekian lama mengamankan posisi kedua harus rela turun ke peringkat ketiga. Kapasitas tempat duduk KLIA tercatat mengalami penurunan sebesar 4,4 persen menjadi 3,15 juta kursi.
Di posisi keempat, Bandara Internasional Suvarnabhumi Thailand mencatatkan 3,14 juta kursi atau turun 1,9 persen. Melengkapi jajaran lima besar, Bandara Internasional Ninoy Aquino di Filipina mencatatkan 2,58 juta kursi, menyusut 5,1 persen.
Secara fisik, Bandara Internasional Kuala Lumpur di Sepang membentang seluas hampir 100 kilometer persegi, menjadikannya bandara terbesar di Asia Tenggara berdasarkan luas lahan sekaligus hub utama penerbangan domestik dan internasional.
Mengutip The Star, KLIA sebenarnya telah melayani 23,4 juta penumpang internasional pada semester pertama tahun ini, naik 7,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Adapun total pergerakan penumpang tumbuh 5,4 persen secara tahunan mencapai 31,7 juta orang.
Namun secara keseluruhan, OAG melaporkan bahwa kapasitas penerbangan di pasar Asia Tenggara pada Juli lalu mengalami penyusutan sebesar 1,2 persen dibandingkan periode tahun lalu menjadi 50,4 juta kursi.
Penurunan kapasitas ini dipicu oleh lonjakan harga bahan bakar avtur akibat dinamika tensi politik di kawasan Timur Tengah.
Menyikapi situasi tersebut, sejumlah maskapai di Asia Tenggara mulai melakukan penyesuaian dengan memangkas rute penerbangan internasional guna menekan biaya operasional.
(wiw)

















































