Jakarta, CNN Indonesia --
Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengonfirmasi sebuah meteor bola api (fireball) berukuran kecil meledak di langit wilayah timur laut Amerika Serikat pada Sabtu (30/5) pukul 14.06 waktu setempat. Ledakan tersebut melepaskan energi yang sangat besar hingga memicu dentuman sonik (sonic boom) yang terdengar di beberapa negara bagian AS hingga dua provinsi di Kanada.
Berdasarkan analisis awal NASA, meteor tersebut memiliki diameter sekitar atau 1,6 meter dengan massa mencapai 5,6 metrik ton sebelum akhirnya pecah berkeping-keping.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melansir Live Science, saat memasuki atmosfer Bumi, batuan luar angkasa ini melaju dengan kecepatan luar biasa mencapai 67.000 kilometer per jam. Gesekan hebat yang terjadi saat menembus atmosfer membuat meteor tersebut melampaui kecepatan suara dan hancur di ketinggian sekitar 50 kilometer di atas permukaan Bumi.
NASA melaporkan bahwa puing-puing sisa ledakan jatuh dan menghujani wilayah Cape Cod. Satelit milik NOAA sempat menangkap momen pergerakan meteor tersebut sesaat sebelum fragmennya hancur berantakan di atmosfer.
"Berdasarkan data terbaru, energi yang dilepaskan saat pecah diperkirakan setara dengan sekitar 230 ton TNT, yang menjadi penyebab terjadinya sonic boom," tulis NASA dalam pernyataan resmi yang diunggah di X, Sabtu (30/5).
NASA menambahkan bahwa objek luar angkasa dengan ukuran mikro seperti yang jatuh di AS ini sangat sulit untuk dilacak saat masih berada di ruang angkasa. Namun, objek sekecil ini hampir pasti habis terbakar oleh atmosfer sebelum menyentuh daratan, sehingga tidak menimbulkan risiko kerusakan serius.
Bahaya yang jauh lebih besar justru datang dari asteroid dekat Bumi (near-Earth asteroids) berukuran besar dengan diameter lebih 140 meter. Batuan luar angkasa raksasa yang kerap dijuluki sebagai "city-killers" ini berpotensi menembus pertahanan atmosfer dan menyebabkan kerusakan masif jika jatuh di area padat penduduk.
Berbeda dengan meteor mikro, asteroid raksasa ini jauh lebih mudah dilacak. NASA sejauh ini terus memantau lebih dari 40.000 asteroid besar di sekitar planet Bumi.
Meski diperkirakan masih ada ribuan asteroid lain yang belum ditemukan, probe pelacak asteroid generasi terbaru diproyeksikan mampu menutup celah pengawasan tersebut dalam dekade berikutnya.
Peristiwa bola api pada hari Sabtu tersebut menambah panjang daftar fenomena serupa yang terpantau dalam beberapa bulan terakhir di berbagai belahan dunia.
Sebelumnya pada 25 Mei, kamera pengawas berhasil mengabadikan momen sebuah bola api hijau yang memukau jatuh dari langit tepat di belakang Gunung Mayon yang sedang meletus di Filipina.
Sementara pada 21 Maret, sebuah bongkahan meteor seukuran bola meriam dilaporkan menghantam dan menjebol atap rumah sebuah keluarga di Texas, AS, yang menyebabkan kerusakan bangunan meski tidak menimbulkan korban luka. Beberapa hari sebelum insiden Texas, bola api berdiameter 1,8 meter juga meledak di atas langit Ohio dan memicu dentuman sonik yang kuat.
(dmi)
Add
as a preferred source on Google


















































