Bonnie PDIP Sebut Kolonialisme Wariskan Feodalisme di RI

4 hours ago 8

Jakarta, CNN Indonesia --

Sejarawan sekaligus anggota Komisi X DPR, Bonnie Triyana menyebut bahwa kolonialisme telah mewariskan mental feodalisme yang menjadi alat kontrol penguasa terhadap rakyat yang masih berlaku hingga saat ini.

Pernyataan itu disampaikan Bonnie saat menjadi pembicara memperingati berakhirnya Perang Dunia II di Amsterdam, Belanda, Senin (4/5). Diskusi itu digelar Omroep ZWART dan OBA Next Lab, sebuah media dan lembaga kajian di bawah perpustakaan umum di Amsterdam.

"Kolonialisme Belanda merawat feodalisme sebagai cara mengontrol rakyat dan sumber kekayaan alam," ujar Bonnie dalam keterangannya, Selasa (5/5).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Politikus PDIP itu menambahkan kolonialisme Belanda melalui kongsi dagangnya, VOC, kala itu telah menciptakan hubungan rakyat dan elite sebagai patron klien.

Dia mencontohkan Soewardi Suryaningrat, yang dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara, bahkan diasingkan ke Belanda karena kritik pedasnya terhadap pemerintah kolonial.

"Kebebasan bicara pada era kolonial adalah kemewahan yang tak mungkin diperoleh oleh rakyat. Kritik pada era kolonial menjadi tindakan kepahlawanan," ujarnya.

Bonnie juga mengkritik perspektif Belanda yang menganggap era VOC sebagai era kejayaan dunia. Padahal, menurut dia, apa yang dilakukan VOC di tanah koloni, termasuk Indonesia, penuh kekerasan dan eksploitasi.

Meski era kolonialisme berakhir, Bonnie menilai praktiknya kini telah berevolusi menjadi mentalitas diskriminasi terhadap rakyat.

"Kolonialisme memang sudah berakhir usai Perang Dunia Kedua, namun kolonialitas sebagai mentalitas yang tetap melanggengkan hubungan masyarakat yang diskriminatif, eksploitatif, dan rasialistis masih tetap berlangsung sampai hari ini," ujar Bonnie.

Bonnie mengajak Belanda untuk memiliki kesamaan perspektif dalam pelurusan sejarah. Terutama pada periode traumatik 1945-1949. Menurut dia, pelajaran atau pemahaman sejarah harus bebas dari belenggu masa lalu.

"Pelajaran sejarah harus membebaskan diri dari belenggu trauma masa lalu sekaligus memutus rantai kekerasan yang teriadi di tengah masvarakat," ujarnya.

(fra/thr/fra)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |