Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyinggung tingginya pendapatan bunga bersih (Net Interest Margin/ NIM) bank di Indonesia.
Menurut Purbaya, itu menjadi masalah menahun yang perlu menjadi perhatian.
"Ini kan masalah di perbankan kita sudah (lama) mungkin 30 tahun, 40 tahun seperti ini di mana Net Interest Margin kita besar, tertinggi, di dunia, dan akhirat," canda Purbaya disambut gelak tawa hadirin dalam acara Economic Outlook di Graha CIMB Niaga, Jakarta, seperti dikutip Detik Finance, Kamis (12/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Purbaya menilai perbankan Indonesia masih menganut struktur oligopolis. Hal itu menjadi salah satu faktor penurunan suku bunga berjalan lamban.
"Kalau saya lihat sebagai ekonom ya, struktur perbankan kita cenderung oligopolis. Harusnya bank sentral yang mengatur itu, saya enggak tahu gimana caranya, tetapi harusnya ada cara untuk menurunkan seperti itu," terangnya.
Kendati demikian, sambung Purbaya, kondisi sudah lebih baik setelah Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan. Karenanya, Purbaya meyakini ruang penurunan suku bunga terbuka seiring kondisi likuiditas yang mencukupi.
"Empat bulan itu sudah kelihatan perbaikan arah ekonominya gara-gara bank sentral menurunkan bunga. Sekarang ditambah lagi kita pastikan likuiditas cukup di pasar. Jadi harusnya ruang ke arah bunga yang lebih rendah akan terbuka lagi," ujarnya.
Berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), NIM industri perbankan RI rata-rata mencapai 4,56 persen pada Desember 2025 atau lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu, 4,62 persen.
(sfr)















































