CNN Indonesia
Kamis, 12 Feb 2026 06:00 WIB
Ilustrasi. Ternyata ada alasan kenapa orang yang ditagih utang justru lebih galak. (iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --
Pernah menagih utang ke seseorang, tetapi justru dibalas dengan nada tinggi, emosi, bahkan agresif? Alih-alih merasa bersalah, orang yang berutang malah tampak lebih galak.
Fenomena ini ternyata bukan sekadar soal sikap atau etika, melainkan berkaitan erat dengan kondisi psikologis dan biologis manusia.
Psikiater sekaligus dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Riati Sri Hartini menjelaskan bahwa penagihan utang dapat memicu tekanan berat, terutama ketika kondisi keuangan sedang terpuruk. Tekanan ini bukan hanya soal uang, tetapi juga menyentuh harga diri seseorang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari sisi psikologis dan neurosains, penagihan utang dapat memicu tekanan berat yang mengikis kemampuan seseorang dalam mengelola emosi. Stres finansial dan rasa terancam pada harga diri membuat kemampuan koping dan kontrol emosi menurun," ujar Riati, dikutip dari laman IPB, Jumat (6/2).
Secara biologis, tekanan akibat utang dan penagihan dapat mengaktifkan amigdala, bagian otak yang berfungsi sebagai pusat deteksi ancaman. Pada saat yang sama, kerja prefrontal cortex, area otak yang berperan dalam berpikir rasional dan mengendalikan emosi menjadi melemah.
"Kondisi ini membuat otak masuk ke mode fight or flight, sehingga respons yang muncul cenderung defensif dan agresif, bukan reflektif," jelas Riati.
Artinya, kemarahan atau sikap galak bukan muncul tanpa sebab. Reaksi tersebut merupakan kombinasi stres psikologis, rasa malu, dan ancaman terhadap identitas diri, terutama ketika seseorang merasa gagal secara finansial.
Bukan tanda gangguan jiwa
Meski terlihat ekstrem, Riati menegaskan bahwa galak saat ditagih utang tidak otomatis menandakan adanya gangguan kejiwaan. Dalam banyak kasus, reaksi tersebut masih tergolong wajar.
"Masalah keuangan membuat tubuh dan pikiran berada dalam kondisi stres. Ketika ditagih, perasaan malu, takut, dan terpojok bisa muncul bersamaan, sehingga orang bereaksi dengan emosi tinggi. Ini lebih mirip refleks orang yang kaget, bukan karena sakit jiwa," katanya.
Selama kemarahan hanya muncul pada situasi tertentu, misalnya saat ditagih utang dan tidak terjadi terus-menerus, respons tersebut masih termasuk reaksi stres normal atau acute stress response.
Namun, kondisi patut diwaspadai bila kemarahan muncul di berbagai situasi, sulit dikendalikan hingga menyakiti orang lain, mengganggu pekerjaan atau hubungan sosial, serta disertai gejala lain seperti gangguan tidur berat, rasa putus asa berkepanjangan, atau perilaku berisiko.
Dipengaruhi siapa yang menagih
Menariknya, respons emosional orang yang berutang juga dipengaruhi oleh siapa yang menagih. Jika yang menagih adalah teman atau orang dekat, reaksi yang muncul sering kali berupa rasa malu dan tersinggung karena harga diri dan relasi sosial ikut terancam.
Sebaliknya, bila penagihan dilakukan oleh debt collector, situasi lebih sering dipersepsikan sebagai ancaman langsung. Hal ini memicu stres akut dan respons bertahan seperti emosi tinggi atau agresi verbal.
"Meski sama-sama tampak galak, keduanya bukan tanda gangguan jiwa," tegas Riati.
Lantas, bagaimana sebaiknya bersikap ketika menghadapi orang yang galak saat ditagih utang?
Menurut Riati, melawan atau menekan justru berisiko memperkeruh situasi.
"Biasanya mereka bukan ingin mencari keributan, tetapi sedang tertekan dan kewalahan. Pendekatan yang lebih baik adalah menenangkan situasi, berbicara dengan nada pelan, tidak menyudutkan, dan mengajak mencari solusi bersama," ujarnya.
Pendekatan yang tenang dinilai dapat membantu menurunkan emosi, sehingga otak kembali bekerja lebih rasional dan pembicaraan bisa berjalan lebih produktif.
"Intinya, orang yang galak saat ditagih utang bukan perlu dimarahi, tetapi ditenangkan dan diajak mencari jalan keluar agar masalah tidak semakin besar," tutup Riati.
(tis/tis)

















































