Efek Domino Ambruk IHSG: Merembet ke Rupiah hingga Dompet Rakyat

11 hours ago 4

Jakarta, CNN Indonesia --

Gonjang-ganjing ambruknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sejak pekan lalu memunculkan kekhawatiran di pasar keuangan. Gejolak bursa tetap menyisakan dampak lanjutan bagi masyarakat luas yang tidak terlibat langsung sebagai 'pemain saham' atau investor.

Pada Rabu (28/1) dan Kamis (29/1) lalu, IHSG anjlok hingga 8 persen, yang membuat perdagangan dihentikan sementara atau trading halt. Sampai saat ini, indeks saham masih terus turun, bahkan pada penutupan Senin (2/2) kemarin merosot ke level 7.000.

Anjloknya IHSG terjadi setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan pembekuan sementara perhitungan sejumlah indeks yang melibatkan saham-saham Indonesia. Lembaga ini pun meminta Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk membenahi transparansi data kepemilikan saham dalam negeri hingga free float.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Secara kasat mata, penurunan IHSG memang identik dengan kerugian investor pasar modal. Namun di balik itu, fluktuasi tajam indeks saham juga mencerminkan tekanan kepercayaan terhadap perekonomian nasional.

VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi menjelaskan salah satu faktor yang menjadi perhatian pasar adalah kebijakan MSCI terhadap saham-saham Indonesia. Keputusan tersebut berpotensi memicu efek berantai ke berbagai sektor ekonomi, tak cuma pemain bursa.

"Kebijakan MSCI akan berdampak domino terhadap perspektif investor global secara keseluruhan dalam berinvestasi di Indonesia dan uang berpotensi menjadi semakin mahal," ujar Oktavianus kepada CNNIndonesia.com.

Ia menyebut saat ini terjadi kondisi freeze interim yang membuat arus dana asing ke Indonesia semakin tersendat. Situasi ini tidak hanya berdampak pada pasar saham, tetapi juga menjalar ke sektor lain.

"Efeknya merembet ke rupiah, harga barang hingga bunga kredit," katanya.

Pelemahan nilai tukar rupiah, lanjut Oktavianus, menjadi salah satu dampak yang akan dirasakan dan sampai ke masyarakat umum. Ketika rupiah tertekan, harga barang impor seperti elektronik, obat, bahan baku industri, berpotensi ikut naik.

Kondisi ini membuktikan bahwa masyarakat yang tidak memiliki saham sekalipun tetap berisiko merasakan dampak IHSG ambruk melalui kenaikan harga barang kebutuhan tertentu. Tekanan juga bisa dirasakan pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor.

Oktavianus memperingatkan dampaknya akan jauh lebih besar jika Indonesia mengalami skenario terburuk dalam klasifikasi pasar global. Hal ini berpotensi memperpanjang tekanan terhadap ekonomi nasional.

"Tetapi jika terjadi worse case dengan Indonesia diturunkan menjadi Frontier Market, maka akan lebih dalam dampaknya jangka panjang terhadap ekonomi Indonesia,seiring dengan akan dianggap pasarnya semakin kecil dan tidak prioritas," katanya.

Dalam kondisi tersebut, arus modal berisiko semakin menyusut. Akibatnya, biaya pendanaan menjadi lebih mahal dan ruang ekspansi ekonomi semakin terbatas.


Read Entire Article
| | | |