Efek Outlook Moody's: Potensi Cicilan KPR dan Motor Makin Berat

2 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Dampak lembaga Pemeringkat Kredit Moody's merevisi outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif berpotensi menimbulkan efek berantai ke perekonomian domestik, mulai dari kenaikan biaya utang pemerintah hingga beban cicilan masyarakat yang semakin berat.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengatakan, perubahan outlook tersebut membuat biaya utang pemerintah berisiko meningkat dan menekan ruang fiskal.

"Kalau pemerintah menerbitkan Rp830 triliun utang baru, bunganya jauh lebih tinggi karena penilaian rating negatif. Memaksakan penerbitan utang, defisit tahun berjalan dan ke depan makin lebar, bisa tembus diatas 3 persen," ujar Bhima kepada CNNIndonesia.com.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menilai dampak tersebut tidak hanya dirasakan pemerintah, tetapi juga langsung menyentuh masyarakat. Cicilan kredit rumah hingga kendaraan bermotor bakal lebih berat.

"Bagi masyarakat, cicilan KPR dan kredit kendaraan bermotornya jadi lebih berat," katanya.

Bhima juga mengingatkan revisi outlook bisa menekan minat investasi di pasar keuangan dan sektor riil. Ujungnya, bisa saja sampai menimbulkan pemutusan hubungan kerja (PHK).

"Investasi jadi berkurang di pasar modal, padahal Indonesia butuh investasi untuk menciptakan lapangan kerja. Khawatir gelombang PHK tahun ini makin naik," jelasnya.

Senada, Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita menilai outlook negatif merupakan ibarat lampu kuning, yang artinya sinyal peringatan bagi perekonomian nasional. Sebab, ini menandakan Moody's melihat adanya peningkatan risiko, baik fiskal, eksternal, maupun institusional di Indonesia.

"Artinya, kalau tidak dikelola dengan baik, bisa berujung pada penurunan rating ke depannya," kata Ronny.

Menurutnya, sinyal tersebut berpotensi menaikkan pembiayaan negara karena investor akan meminta imbal hasil yang lebih tinggi.

"Buat negara yang masih mengandalkan pembiayaan eksternal, sinyal ini penting karena biaya utang bisa ikut naik. Investor akan minta risk premium lebih tinggi, seperti yield SBN naik, bunga pinjaman luar negeri bisa lebih mahal," jelasnya.

Ronny menambahkan, risiko terbesar dari outlook negatif bukanlah krisis secara langsung, melainkan tekanan yang terjadi secara bertahap. Contohnya, sinyal pembiayaan meningkat, lalu APBN makin tertekan.

Ia juga menyoroti potensi meningkatnya volatilitas pasar keuangan dan tertahannya investasi asing.

"Walhasil, investor portofolio akan jadi lebih sensitif, sehingga potensi capital outflow bisa lebih mudah terjadi saat ada guncangan global. Lalu ada juga persepsi risiko yang naik, walhasil investasi asing langsung (FDI) bisa menahan diri untuk masuk atau minta insentif yang lebih besar. Risiko lainya, rupiah lebih rentan volatil karena sentimen akan ikut terbentuk," kata Ronny.

Meski demikian, Ronny menekankan outlook negatif masih bersifat peringatan dini. Apabila pemerintah bisa mengantisipasi alarm ini, maka dampaknya gak akan besar ke perekonomian.

"Intinya, outlook negatif adalah peringatan dini, bukan hukuman. Bisa berbahaya kalau disangkal, justru berguna kalau dijadikan alarm kebijakan," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]

(ldy/pta)

Read Entire Article
| | | |