CNN Indonesia
Sabtu, 23 Mei 2026 03:30 WIB
Sutradara film Miracle in Cell No. 7 (2013) asli versi Korea Selatan, Lee Hwan-kyung, bakal menggarap film baru berlatar Indonesia. (dok. Korean Film Council)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sutradara film Miracle in Cell No. 7 (2013) asli versi Korea Selatan, Lee Hwan-kyung, bakal menggarap film baru berlatar Indonesia yang mengisahkan soal ayah dan hubungan orang tua juga anak.
Lee Hwan-kyung digandeng oleh Falcon Pictures untuk menggarap proyek yang diberi judul Gasigogi. Syuting disebut akan dimulai beberapa bulan mendatang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk cerita yang begitu intim, saya mencari kemitraan yang dibangun berdasarkan resonansi emosional daripada sekadar skala komersial," kata Lee, seperti diberitakan Variety pada Kamis (21/5).
"Saya sangat terkesan dengan komitmen produser Frederica dan HB Naveen [dari Falcon Pictures]. Dedikasi mereka terhadap inti pembuatan film adalah alasan mengapa Falcon Pictures adalah satu-satunya rumah untuk cerita ini."
Judul film ini diambil dari nama dalam bahasa Korea, "gasigogi", yang merujuk pada ikan Stickleback amur. Stickleback amur merupakan spesies ikan dalam famili Gasterosteidae alias Ikan punggung duri.
Stickleback amur biasa ditemukan di air tawar, payau, dan laut dengan ukuran yang kecil, 6,5 sampai 9 cm. Ikan ini tersebar di Asia Timur, terutama di Semenanjung Korea, Jepang, dan China.
Ikan tersebut memiliki tabiat di mana pejantan menjaga telur sendirian setelah betina pergi, mulai dari mengurus sarang, mengusir predator, dan menjaga sendirian hingga kelelahan lalu merelakan diri menjadi makanan pertama anaknya sendiri.
Variety menyebut Lee sebelumnya sempat menolak membawa cerita ini ke layar lebar karena merasa bebannya begitu menyakitkan. Bila Miracle in Cell No. 7 adalah sebagai penghormatan kepada putrinya, Gasigogi yang berlatar di Indonesia ini akan punya pesan mendalam.
Lee ingin film ini memberikan penekanan mendalam pada keluarga, agama, dan ikatan sosial yang kental di Indonesia. Ia menekankan bahwa proyek ini bukanlah transisi sentimen Korea, tetapi karya baru yang "bernafas dengan paru-paru Indonesia," berakar pada tradisi bercerita lokal.
"Tujuannya sederhana," tambah Lee. "Saya ingin menciptakan film yang begitu jujur dan beresonansi sehingga ketika kredit film berakhir, hal pertama yang ingin dilakukan penonton adalah menelepon ayah mereka. Saya ingin mereka memahami keheningan orang tua mereka sebelum terlambat."
(end)
Add
as a preferred source on Google


















































